INFOMEDIK Buletin Asy-Syifa edisi Mei 2010

Puasa Ditinjau dari Aspek Psikoneuroimunologi

Puasa dapat memberikan banyak manfaat bagi kesehatan. Puasa tidak hanya menahan diri dari lapar dan dahaga tetapi juga menjaga anggota badan dari maksiat serta membuat kita berlatih bersabar. Seperti yang disabdakan Rasulullah, “Puasa itu bukanlah sekedar menahan diri dari makan dan minum, akan tetapi sesungguhnya puasa itu ialah mencegah diri dari segala perbuatan yang sia-sia serta menjauhi perbuatan-perbuatan yang kotor dan keji” (HR. Hakim). Oleh karena itu, puasa dapat mengendalikan stres. Perubahan pola makan ketika awal berpuasa juga menyebabkan stres, namun perubahan pola makan ini hanya memberikan nilai stres yang relatif kecil bila dibandingkan dengan nilai stres yang didapat dari pekerjaan atau trauma karena sakit.

Di samping stres, puasa juga dapat menurunkan efek inflamasi, meningkatkan sistem imun, baik sistem imun spesifik maupun nonspesifik. Puasa dapat meningkatkan aktivitas limfosit-T dan peningkatan tersebut berperan dalam merangsang limfosit B untuk meningkatkan produksi antibodi sehingga mengurangi risiko terkena penyakit infeksi serta inflamasi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa puasa yang dilakukan selama 10 jam ternyata mampu meningkatkan aktivitas limfosit-T. Peningkatan tersebut diyakini berpengaruh terhadap efektivitas presentasi antigen.

Puasa juga mampu meningkatkan fungsi neutrofil dan makrofag. Peningkatan fungsi neutrofil ini dapat ditunjukkan melalui peningkatan produksi NADPH oksidase. NADPH oksidase ini merupakan enzim yang yang dihasilkan oleh sel-sel yang aktif melakukan fagositosis. Enzim ini berfungsi untuk mengkatalisis sintesis anion superoxide serta hidrogen peroxide yang berfungsi untuk menghancurkan mikroorganisme asing.

Dengan demikian, puasa dapat meningkatkan produksi antioksidan untuk melawan reaksi stres oksidatif. Berdasarkan penelitian yang ada, didapatkan hasil bahwa selama puasa, terjadi peningkatan enzim SOD (Super Oxide Dismutase) yang berfungsi untuk menguraikan ROS (Reactive Oxygen Species). ROS ini merupakan radikal bebas dan bertanggung jawab terhadap terjadinya penyakit kardiovaskuler, seperti hipertensi, atherosklerosis, diabetes, hipertrofi jantung, gagal jantung, ischemia-reperfusion, serta stroke. Akumulasi ROS di dalam sel dapat menganggu pertumbuhan dan diferensiasi serta aktivasi gen-gen inflamasi. Kadar ROS yang berlebihan di dalam tubuh terbukti mampu menurunkan mekanisme kerja senyawa-senyawa antioksidan sehingga memicu terjadinya stres oksidatif. Selain itu, terdapat penelitian yang membuktikan bahwa feses orang yang berpuasa mengandung ROS yang lebih banyak daripada orang yang tidak berpuasa. Dengan demikian, puasa dapat meningkatkan pembuangan ROS melalui feses..


....dan puasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS Al Baqarah: 184)
Sumber: Quranic Quotient Centre


download pdf file

0 komentar:

Poskan Komentar

Tafadhol antum / antunna mengkomentari posting di atas. Syukron.