rurik muhasabah buletin asy syifa edisi april 2011

WAKTU YANG BEGITU SEMPIT

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu” (QS.As-Sajdah : 5).

Dari firman Allah.SWT diatas, mari kita mencoba untuk menghitung “jatah hidup” manusia didunia berdasarkan waktu akhirat yang Allah SWT telah tentukan. Hasilnya, 1000 tahun didunia = 1 hari di Akhirat. Kemudian kedua waktu tersebut kita bagi 24, hasilnya: 42 tahun didunia = 1 jam di akhirat. Rata-rata usia umat Rasulullah 60-65 tahun dan itu ternyata setara dengan 1,5 jam waktu akhirat.
!
“Astaghfirullah…!” Ternyata hanya 1,5 jam umur kita didunia jika dihitung berdasarkan waktu akhirat yang telah Allah tentukan. Mengapa kita masih bersantai-santai dengan waktu yang begitu sempit? Mengapa kita masih bermalas-malasan, sering menunda-nunda dan menyia-yiakan waktu?

Saudaraku, ada 4 kelompok manusia berdasarkan mereka menggunakan waktunya. Pertama, orang yang tidak menyadari nilai waktu dan tidak memahami bahaya menyia-nyiakan waktu. Kedua, orang yang menyadari nilai dan pentingnya waktu, tapi ia malas memanfaatkan waktu. Sikap ini muncul karena ia telah kehilangan semangat hidup. Ketiga, orang yang menyadari betapa tinggi nilai waktu, serta memiliki hasrat untuk memanfaatkannya. Sayangnya, ia tidak mengerti cara menyalurkan hasrat tersebut. Namun ia masih berharap termasuk orang beruntung di sisi Allah SWT, Tuhan penguasa alam semesta. Keempat, orang yang menyadari nilai waktu, tujuan hidup dan arti kehidupan. Ia juga mampu mengisi waktunya dengan beragam aktivitas yang positif, serta perbuatan indah dan agung yang menjanjikan keuntungan besar dan anugerah dari Allah SWT.

Lantas termasuk kelompok manakah diri kita ini? Hati nurani yang akan menjawab. Semoga kita termasuk dalam kelompok yang ke empat. Menyia-nyiakan waktu walaupun hanya sedetik, semenit, atau sehela nafas, berarti kita telah melalaikan banyak hal yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat. Imam syafi’i pernah mengatakan dari hadits nabi bahwa, “Waktu itu seperti pedang. Jika tidak kamu tebaskan maka waktu itulah yang akan menebasmu.”
Saudaraku, manusia tinggal di dunia hanya untuk waktu yang singkat. Di sini, kita akan diuji, dilatih, kemudian meninggalkan dunia menuju kehidupan akhirat di mana ia akan tinggal selamanya. Harta benda serta kesenangan di dunia, walaupun diciptakan serupa dengan yang ada di akhirat, sebenarnya memiliki banyak kekurangan dan kelemahan karena harta benda dan kesenangan tersebut ditujukan hanya agar manusia mengingat hari akhirat. Akan tetapi, apabila kita tidak mampu memahami kenyataan ini kita akan berperilaku seakan-akan segala sesuatu di dunia ini milik kita. Hal ini memperdaya karena semua kesenangan di dunia ini bersifat sementara dan tidak sempurna, tidak mampu memuaskan manusia yang diciptakan untuk keindahan kesempurnaan abadi, yaitu Allah. Allah menjelaskan betapa dunia merupakan tempat sementara yang penuh dengan kekurangan.

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS: Al-Hadiid: 20).

Bagi mereka yang lupa bahwa dunia merupakan tempat sementara dan mereka yang tidak memperhatikan ayat-ayat Allah, tetapi merasa puas dengan permainan dunia dan kesenangan hidup, menganggap memiliki diri mereka sendiri, serta menuhankan diri sendiri, Allah akan memberikan hukuman yang berat.

Marilah kita berbenah diri, manfaatkan waktu yang sempit di dunia ini untuk meraih kebahagiaan fiddunya wal akhirah, bukan kebahagiaan dunia semata. Orang yang sukses akhirat, ia akan sukses di dunia, tetapi orang yang sukses dunia, belum tentu ia sukses akhirat.

Sumber : www.alislam.blogspot.com

download artikel format pdf :

0 komentar:

Poskan Komentar

Tafadhol antum / antunna mengkomentari posting di atas. Syukron.