BAHASAN UTAMA Buletin Asy-Syifa edisi Mei 2010

Fenomena Lemahnya Iman
A. Definisi Iman
Iman secara bahasa maknanya adalah membenarkan. Sedangkan secara istilah maknanya adalah meyakini dengan hati mengucapkan dengan lisan dan membuktikannya dengan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan sebab kemaksiatan. Dan iman itu memiliki 70 atau enam puluh sekian cabang.

Dalilnya:
1. Hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwasannya Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Iman itu terdiri dari 70 atau enam puluh sekian cabang, yang paling utama adalah ucapan Laa Ilaaha Illallah dan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan dan malu termasuk cabang dari keimanan." (Muttafaqun’alaih)

2. Hadits Jibril tentang rukun Iman

3. Firman Allah: “Dan Hanya kepada Allahlah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (Al-Maidah: 23)

4. Dalil yang menunjukkan iman itu bertambah, Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb mereka, mereka bertawakal.” (Al-Anfal: 2) dan Firman Allah Ta’ala: “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (Al-Fath: 4).

Adapun dalil yang menunjukkan berkurangnya iman karena kemaksiatan adalah dalil-dalil yang menunjukkan bertambahnya keimanan tersebut, sebab sebelum bertambah, iman tersebut dalam keadaan kurang.

B. Fenomena Lemahnya Iman
Setelah teman-teman mengetahui apa makna dari iman, kini kita beralih ke pembahasan fenomena lemahnya iman. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid menjelaskan sebagai berikut, diantara fenomena lemahnya iman adalah:

1. Melakukan kedurhakaan dan dosa. Diantara mereka ada yang melakukan satu jenis kedurhakaan namun terus menerus dan ada pula yang melakukan banyak kedurhakaan. Terlalu sering melakukan kedurhakaan dapat menjadi kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan. Kemudian segala bentu keburukan kedurhakaan itu akan tampak sirna dari hati secara pelan-pelan. Dan akhirnya pelakunya berani berbuat secara terang-terangan.

2. Merasakan adanya kekerasan dan kekakuan hati. Allah berfirman: “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebh keras lagi.“ (Al-Baqarah: 74). Orang yang hatinya keras tidak dapat dipengaruhi oleh nasihat tentang kematian, ataupun tidak pula terpengaruh tatkala melihat orang mati. (beginikah keadaan hati kita ???)

3. Tidak tekun dalam beribadah. Contohnya tidak konsentrasi dalam sholat, membaca Al-Qur’an dan lain-lain.

4. Malas melakukan Amal tha’at dan ibadah serta meremehkannya.

5. Dada yang terasa menyesak, perubahan perangai dan tabiat yang terbelenggu, sehingga seakan–akan merasakan beban berat yang menghimpitnya, Nabi bersabda, “Iman adalah kesabaran dan kelapangan hati.” (Al Silsilah Ash Shahihah no. 554)

6. Tidak tersentuh dengan kandungan ayat-ayat al Qur’an.

7. Melalaikan Allah dalam hal berdzikir.

8. Tidak merasa marah jika ada pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan Allah. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, ”Apabila dosa dikerjakan di muka bumi, maka orang yang menyaksikannya dan ia membencinya (dan kadang beliau mengatakan: mengingkarnya), maka ia seperti orang yang tidak menyaksikannya. Dan siapa yang tidak menyaksikannya dan ia ridha kepadanya, maka ia seperti orang yang menyaksikannya.” (HR Abu Daud no 4345, disebutkan di Shahihul Jami’, 689)

9. Gila hormat dan suka publikasi.

10. Bakhil dan kikir. Rasulullah bersabda: ”Sifat kikir dan iman tidak akan bisa bersatu dalam hati seorang hamba selama-lamanya.” (HR An Nasa’I 6/13, disebutkan dalam Shahihul jami’ 2678).

11. Mengatakan yang tidak diperbuatnya. Dalilnya Firman Allah Ta’ala dalam Surat Ash-Shaff: 2-3.

12. Merasa senang dan gembira ketika saudaranya sesama muslim mengalami kegagalan.

13. Menilai segala sesuatu dari sisi terjadinya dosa atau tidak, serta tidak mau melihat dari sisi perbuatan yang makruh.

14. Mencela yang ma’ruf dan tidak mau memperhatikan kebaikan-kebaikan yang kecil. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Janganlah sekali-kali kamu mencela yang ma’ruf sedikitpun, meski engkau menuangkan air di embermu ke dalam bejana seseorang yang hendak menimba air dan meski engkau berbicara dengan saudaramu sedangkan wajahmu tampak berseri kepadanya.” (Musnad Ahmad, Silsilah Ash Shahihah no 1352).

Wahai, teman-temanku bagaimanakah keadaan kita, apakah telah jauh dari hal-hal diatas atau sebaliknya kita masih tercebur didalamnya dan kesulitan untuk keluar darinya???

Penyebab Lemahnya Iman
Lemah iman memiliki beberapa sebab yang cukup banyak jumlahnya yang diantaranya ada yang terpadu dengan beberapa ciri, seperti perbuatan durhaka dan tenggelam dalam keduniaan. Berikut ini akan dikemukaan sebab-sebab tersebut:

1. Menjauhi lingkungan yang disitu sudah tercipta iklim keimanan hingga jangka waktu yang lama. Tentu saja hal ini dapat menyebabkan lemahnya iman di dalam diri. Allah ta’ala berfirman : “Belumkah datang waktu bagi orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al Hadid: 16)

2. Menjauhi pelajaran keteladanan yang baik. Seseorang yang berguru kepada orang shalih, maka dia akan bisa memadukan ilmu yang bermanfaat, amal yang shalih dan iman yang kuat . Dia bisa berkolusi dan menyerap ilmu, akhlaq dan keutamaan-keutamaan gurunya. Andaikata ia menjauhinya hingga sekian lama, dia pun akan merasakan kekerasan di dalam hatinya. (bagaimana dengan kita, bergurukah kita pada orang yang shalih atau malah tidak punya waktu untuk berguru kepada mereka ???)

3. Tidak mau mencari ilmu syariat dan tidak mau menggali buku orang-orang salaf yang memuat keimanan yang bisa menghidupkan hati. Seperti kitab-kitab Al Alamah Ibnu Qayyim dan Ibnu Rajab. (Bagaimana keadaan kita sekarang, hanya menyibukkan diri dengan Anatomi, fisiologi dan segala yang berhubungan dengan kedokteran saja??? Pikirkan kehidupan hati kita!)

4. Berada di lingkungan yang penuh maksiat. Bangga terhadap maksiatnya, mendengarkan lagu-lagu, mengebulkan asap rokok, membentangkan majalah porno, lidahnya tidak berhenti mencela, dan mengejek, yang semuanya suka berkata begini dan begitu, menggunjing dan mengadu domba serta mengumbar cerita yang tidak senonoh. Atau di tempat lain yang hanya dibicarakan urusan duniawi aja , seperti hanya masalah ilmu kedokteran saja.

5. Tenggelam dalam kesibukan duniawi. Rasulullah Shallalahu’alaihi wasallam bersabda, “Sengsaralah hamba dinar dan hamba dirham.“ ( HR Bukhari no. 2750)

6. Berangan-angan yang muluk-muluk. Dalilnya dalam surat al Hijr: 3

7. Berlebih-lebihan dalam masalah makan, tidur, berjaga pada waktu malam, berbicara dan bergaul. Banyak makan dapat melemahkan pikiran dan badan merasa berat sehingga malas untuk melakukan amal ta’at kepada Allah lalu ia bisa menjadi sarang bersemayamnya setan. Berlebihan bicara bisa membuat hati menjadi keras. Berlebihan dalam bergaul bisa membuat lupa diri dan tidak mau melihat urusan dirinya. Banyak tertawa dalam pergaulannya dengan orang lain akan mengikis materi kehidupan dalam hati dan hatipun menjadi mati. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kamu sekalian memperbanyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.” (Ibnu Majah no 4193, Ashshahihul Jami’ no 7435).

8. Kemudian bagi yang telah menikah, mereka sibuk mengurusi harta benda, istri, anak-anak. Allah ta’ala berfirman: “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan.” (Al Anfal: 28). “Dijadikan indah pada (pandangan mata) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan lading sawah. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah kehidupan yang baik (surga)”. Maknanya adalah, bahwa kecintaan terhadap terhadap hal-hal diatas, jika lebih diprioritaskan daripada kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka inilah yang membuat pelakunya tercela. Adapun jika mencintainya sesuai batasan syariat yang sudah baku maka pelakunya adalah orang yang terpuji.

Inilah diantara penyebab lemahnya iman seseorang. Setelah kita mengetahuinya maka hendaklah kita menjaga diri dari perkara-perkara yang dapat menyebabkan lemahnya iman kita. Semoga Allah ta’ala memudahkan kita untuk mencapai kesempurnaan iman dan jauhnya dari lemahnya iman.

Obat Lemahnya Iman
Berikut ini merupakan beberapa sarana menurut ketentuan syariat yang dapat dijadikan oleh seorang mukmin untuk menyembuhkan imannya yang melemah dan untuk menyingkirkan kekerasan hatinya, setelah ia bersandar kepada Allah dan menguatkan hatinya untuk berusaha.

1. Menyimak Al-Qur’an. Menyimak kandungan Al-Qur’an yang telah diturunkan oleh Allah Ta’ala sebagai penerang bagi sesuatu dan cahaya yang ditunjukkan Allah kepada siapapun yang dikehendaki dari hamba-hambanya juga sebagai penyembuh bagi hamba-hambanya yang beriman. Allah berfirman: “Dan kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al Isra: 282). Yakni dengan menyimak dan memikirkan ayat-ayat-Nya karena di dalamnya terkandung tauhid, janji, ancaman, hukumhukum, pengabaran, kisah, adab, dan akhlaq serta pengaruhnya terhadap jiwa, begitu pula berbagai ayat yang surat yang bisa menyentuh jiwa.

a. Rasulullah adalah teladan terbaik dalam hal ini , Berdasarkan hadits yang menyebutkan apa yang dilakukan rasulullah, suatu malam rasulullah shalat malam sampai beliau menangis hingga Bilal datang menyuarakan adzan. Tatkala Bilal melihat rasulullah menangis, dia berkata “Wahai rasulullah, engkau menangis padahal Allah telah mengampuni dosa engkau yang telah lalu dan yang akan datang . “Beliau berkata: “Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur? Pada malam ini telah turun beberapa ayat, kecelakaanlah bagi orang-orang yang tidak mau memikirkan isinya.” Lalu beliau membaca ayat Ali Imran: 190-191.” (Lihat As Silsilah Ash Shahihah 1/106).

b. Begitu pula para sahabat, Abu bakar radhiallahu’anhu merupakan orang yang lembut, belas kasih dan hatinya mudah tersentuh, belas kasih dan mudah menangis ketika mengimami sholat. Bahkan Umar bin Khattab pernah sakit karena pengaruh membaca firman Allah ta’ala: ”Sesungguhnya adzab Rabbmu pasti terjadi, tidak seorangpun yang dapat menolaknya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/406). Dan perbuatan ini terus dilanjutkan oleh orang-orang yang mengikuti jejak mereka.

c. Ibnu Qayyim berkata,” Ada 2 macam cara untuk menyembuhkan kerasnya hati, yakni pertama, engkau harus mengalihkan hatimu dari dunia, lalu engkau harus menempatkannya di akhirat. Kedua, sesudah itu engkau harus menghadapkan semua hatimu kepada pengertian-pengertian Al-Qur’an, memikirkan dan memahami apa yang dimaksudkan dan mengapa ia diturunkan. Engkau harus mengamati semua ayat-ayat-Nya. Jika suatu ayat diturunkan untuk mengobati hati, maka dengan ijin Allah maka hati itu pun akan sembuh.

2. Merasakan Keagungan Allah. Memahami sifat sifat dan nama-nama Nya maka akan kita ketahui Keagungan Allah ta’ala darinya. Banyak ayat dan hadits yang menyebutkan hal ini . Diantara Asma’ dan sifat Allah Ta’ala adalah Al ‘Adzim, Al Muhaimin, Al Jabbar dll. Kita lihat keagungan Allah yang Dia sebutkan, “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (Az-Zumar: 67). Dan ayat-ayat yang lain yang menunjukkan keagungan Allah, seperti kisah Nabi Musa dalam Al-A’raf: 143. Dan juga dari hadits-hadits yang shahih.

3. Mencari Ilmu Syar’i. Maksudnya ilmu yang dapat menghasilkan rasa takut kepada Allah dan menambah bobot iman sebagaimana yang difirmankan Allah: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya ialah orang-orang yang berilmu.“ (Fathir: 28).

4. Mengikuti halaqah Dzikir. Rasulullah bersabda, “Tidaklah segolongan orang duduk seraya menyebut Allah melainkan para malaikat mengelilingi mereka, ketentraman hati turun kepada mereka dan Allah menyebut mereka termasuk dalam golongan yang berada di sisi-Nya.” (Shahih Muslim no 2700)

5. Memperbanyak Amal shalih. Sebagaimana kita ketahui bahwa iman akan bertambah dengan amal sholih , maka ini merupakan obat dari lemahnya iman seseorang. Dalam hal ini mereka harus memperhatikan beberapa hal. Pertama, sesegera mungkin melakukan amal shalih. Kedua, melakukan amal shalih secara terus-menerus. Ketiga, tidak merasa bosan. Keempat, mengulang amalan yang tertinggalkan dan terlupakan. Kelima, berharap amalannya diterima disertai dengan kekhawatiran kalau amalnya tidak diterima, tentu saja setelah disertai usaha dalam amal-amal shalih.

6. Melakukan berbagai macam amal ibadah , baik yang wajib maupun yang sunnah.

7. Takut su’ul khotimah saat meninggal.

8. Banyak mengingat mati. Rasulullah bersabda, ”Banyak-banyaklah mengingat penebas kelezatan, yakni kematian.” (HR. At-Tirmidzi no 230, Ash Shahihul Jami’ no 1210)

9. Mengingat keberadaan hari akhirat.

10. Berinterakasi dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan peristiwa alam

11. Dzikrullah

12. Bermunajat kepada Allah dan pasrah kepada-Nya

13. Tidak berangan-angan secara muluk

14. Memikirkan kehinaan dunia

15. Mengagungkan hal-hal yang di sisi Allah

16. Al Wala’ wal Bara’.

17. Tawadhu’. Rasulullah bersabda, ”Tawadhu’ (merendahkan diri) itu bagian dari iman.” (Ibnu Majah 4118, Silsilah Ash Shahihah no 314).

18. Amal Qalbi.

19. Menghisab diri sendiri. Allah berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al Hashr:18)

20. Do’a. Berdo’a kepada Allah merupakan sebab ynag paling kuat yang bisa kuat yang bisa dilakukan seorang hamba. Diantara do’a yang diajarkan oleh Rasulullah: “Allahumma Mushorrifal Quluub Shorrif Quluubanaa ‘ala thoo’atika”, artinya “Ya Allah, Yang membolak-balikkan hati manusia, balikkanlah hati kami untuk ta’at kepadamu” (HR Muslim, no.2654).

Maraji’ :
1. Mabadi’ul Mufidah fi at Tauhid, wa Fiqh wa Al Manhaj Karya Syaikh Yahya bin Ali al Hajuri .
2. Syarah Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al utsaimin
3. Zhahiratu Dhu’ful Iman (ed Indonesia: Obat lemahnya Iman ) Karya Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Munajjid.


download pdf file

0 komentar:

Poskan Komentar

Tafadhol antum / antunna mengkomentari posting di atas. Syukron.