SIRAH SAHABAT Buletin Asy-Syifa edisi Mei 2010

SHAFIYYAH BINTI HUYAI -radhiallaahu 'anha-
(Cendekiawati Bani Nadhir)

Beliau adalah Shafiyyah binti Huyai binti Akhthan bin Sa'yah cucu dari Al-Lawi bin Nabiyullah Israel bin Ishaq bin Ibrahim a.s, termasuk keturunan Rasulullah Harun ’alaihis salam. Shafiyyah adalah seorang wanita yang cerdas dan memiliki kedudukan yang terpandang, berparas cantik dan bagus diennya. Sebelum masuk Islam, beliau menikah dengan Salam bin Abi Al-Haqiq, kemudian setelah itu dia menikah dengan Kinanah bin Abi Al-Haqiq. Keduanya adalah penyair yahudi. Kinanah terbunuh pada waktu perang Khaibar, maka beliau termasuk wanita yang ditawan bersama wanita-wania lain. Bilal "Muadzin Rasululllah" menggiring Shafiyyah dan putri pamannya. Mereka melewati tanah lapang yang penuh dengan mayat-mayat orang Yahudi. Shafiyyah diam, tenang dan tidak terlihat sedih dan tidak berteriak-teriak sebagaimana sepupunya yang menampar-nampar wajah, menjerit dan menaburkan pasir pada kepalanya sebagai tanda berduka.

Kemudian keduanya dihadapkan kepada Rasulullah saw, Shafiyyah dalam keadaan sedih namun tetap diam, sedangkan putri pamannya kepalanya penuh pasir, merobek bajunya karena tidak bisa menahan diri dari meratap. Maka Rasulullah saw bersabda, sedangkan tersirat rasa tidak suka pada wajah beliau: "Enyahkanlah syetan wanita ini (sepupu Shafiyyah) dariku”. Kemudian beliau saw mendekati Shafiyyah kemudian mengarahkan pandangan atasnya dengan ramah dan lembut, kemudian bersabda kepada Bilal: "Wahai Bilal, sudah tiadakah rasa kasih sayang dihatimu, hingga engkau tega membawa kedua wanita ini melewati mayat-mayat pasukan perang mereka?"

Selanjutnya Rasulullah menawarkan Islam kepadanya, dan ia menerimanya. Beliau mengulurkan selendang beliau kepada Shafiyyah, hal itu sebagai pertanda bahwa Rasulullah telah memilihnya untuk dirinya, hanya kaum muslimin tidak mengetahui apakah Shafiyyah di ambil oleh Rasulullah sebagai istri atau sebagai hamba sahaya? Maka tatkala beliau menghijabi Shafiyyah, maka barulah mereka tahu bahwa Rasulullah mengambilnya sebagai istri. Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Anas radhiallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tatkala mengambil Shafiyyah binti Huyai belaiu bertanya kepadanya,"Adakah sesuatu yang kau ketahui tentangku?" Maka Shafiyyah menjawab, "Ya Rasulullah, sungguh aku telah mengharapkan engkau tatkala aku masih musyrik dan memikirkan bagaimana seandainya Allah mengabulkan keinginanku itu ketika aku sudah memeluk Islam".

Kemudian tatkala Shafiyyah telah suci Raslullah saw menikahinya, sedangkan maharnya adalah merdekanya Shafiyyah. Nabi shallallahu’alaihi wasallam menanti sampai Khaibar kembali tenang. Setalah beliau perkirakan rasa takut telah hilang pada siri Shafiyyah, beliau mengajaknya pergi Shafiyyah yang beliau bawa di belakang beliau, kemudian beranjak menuju ke sebuah rumah yang berjarak enam mil dari Khaibar. Nabi shallallahu’alaihi wasallam menginginkan diri Shafiyyah ketika itu, namun dia menolaknya. Ada rasa kecewa pada diri Nabi shallallahu’alaihi wasallam karena penolakan tersebut.

Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam melanjutkan perjalanannya ke Madinah bersama bala tentaranya, tatkala mereka sampai di Shabba' jauh dari Khaibar mereka berhenti untuk beristirahat. Pada saat itulah timbul keinginan untuk merayakan walimatul 'urs. Maka didatangkanlah Ummu Anas bin Malik r.a, beliau menyisir rambut Shafiyyah, menghiasi dan memberi wewangian hingga karena kelihaian dia dalam merias, Ummu Sinan Al-Aslamiyah berkata bahwa beliau belum pernah melihat wanita yang lebih putih dan cantik dari Shafiyyah.

Maka diadakanlah walimatul 'urs, maka kaum muslimin memakan lezatnya kurma, mentega, dan keju Khaibar hingga kenyang. Rasulullah saw masuk ke kamar Shafiyyah, sedangkan masih terbayang pada beliau penolakan Shafiyyah tatkala ajakan beliau yang pertama. Maka Shafiyyah menerima Nabi untuk menjalani manjalani malam pertama. Sambil menampakkan rasa sedih, Shafiyyah menceritakan sebuah cerita yang menakjubkan. Dia bercerita bahwa tatkala malam pertamanya dengan Kinanah bin Rabi', pada malam itu dia bermimpi bahwa bulan telah jatuh kekamarnya. Tatkala bangun dia ceritakan hal itu kepada Kinanah. Maka Kinanah berkata dengan marah: "Mimpimu tidak ada takwil lain melainkan kamu berangan-angan mendapatkan raja Hijaz Muhammad. Maka dia tampar wajahnya beliau dengan keras sehingga bekasnya masih ada, Nabi saw mendengarnya sambil tersenyum kemudian bertanya, "Mengapa engkau menolak diriku tatkala kita menginap yang pertama?" Maka beliau menjawab, ”Saya khawatir terhadap diri anda karena dekat Yahudi”. Maka menjadi berseri-serilah wajah Nabi yang mulia serta lenyaplah kekecewaan hati beliau. Maka Nabi melewati malam pertamanya tatkala Shafiyyah berumur 17 tahun.

Tatkala rombongan sampai di Madinah Rasulullah memerintahkan agar Shafiyyah tidak langsung di ketemukan dengan istri-istri beliau yang lain. Beliau turunkan Shafiyyah di rumah sahabatnya yang bernama Haritsah bin Nu'man. Ketika wanita-wanita Anshar mendengar kabar tersebut, mereka datang untuk melihat kecantikannya. Nabi saw memergoki 'Aisyah keluar sambil menutupi dirinya serta berhati-hati (agar tidak dilihat Nabi), kemudian beliau masuk ke rumah Haritsah bin Nu'man. Maka beliau menunggunya sampai 'Aisyah keluar. Maka tatkala beliau keluar, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam memegang bajunya seraya bertanya dengan tersenyum, "Bagaimana menurut mendapatmu wahai yang kemerah-merahan?" 'Aisyah menjawab sementara cemburu menghiasi dirinya, "Aku lihat dia adalah wanita Yahudi." Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam membantahnya dan bersabda: "Jangan berkata begitu….karena sesungguhnya dia telah Islam dan bagus keislamannya."

Selajutnya Shafiyyah berpindah ke rumah Nabi, sehingga menimbulkan kecemburuan istri-istri beliau yang lain karena kecantikannya, sehingga mereka selalu mengejek dan merendahkannya. Bahkan dengan nada mengejek mereka mengatakan bahwa mereka adalah wanita-wanita Quraisy, wanita-wanita Arab sedangkan dirinya adalah wanita asing.

Bahkan suatu ketika sampai keluar dari lisan Hafshah kata-kata, "Anak seorang Yahudi" hingga menyebabkan Shafiyyah menangis. Tatkala itu Nabi masuk sedangkan Shafiyyah masih dalam keadaan menangis. Beliau bertanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Dia menjawab, Hafshah mengatakan kepadaku bahwa aku adalah anak seorang Yahudi. Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya engkau adalah seorang putri seorang Nabi dan pamanmu adalah seorang Nabi, suamimu pun juga seorang Nabi, lantas dengan alasan apa dia mengejekmu?" Kemudian beliau bersabda kepada Hafshah,"Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah!"

Maka kata-kata Nabi itu menjadi penyejuk, keselamatan dan keamanan bagi Shafiyyah. Selanjutnya, manakala dia mendengar ejekan dari istri Nabi yang lain maka diapun berkata: "Bagaimana bisa kalian lebih baik dariku, padahal suamiku adalah Muhammad , ayahku adalah Harun, dan pamanku adalah Musa?"

Shafiyyah radhiallahu’anha wafat tatkala berumur sekitar 50 tahun, ketika masa pemerintahan Mu'awiyah. Beliau dikuburkan di Baqi' bersama Ummuhatul Mukminin. Semoga Allah meridhai mereka semua. Wallahu ta’ala a’lam.


Rujukan: Istri-Istri dan Putri-Putri Rasulullah (Mahmud Mahdi AL-Istanbuli dan Musthofa Abun Nashri Asy-Syilbi)


download pdf file

0 komentar:

Poskan Komentar

Tafadhol antum / antunna mengkomentari posting di atas. Syukron.