Dan Dijadikan Dunia Indah di Mata Kalian

Apakah antum ingin selalu awet muda, sehat, kaya, dan tidak akan mati? Jika antum menginginkan itu, maka bukan di dunia tempatnya tapi di akhirat. Kehidupan dunia ini telah Allah ciptakan untuk sebuah penderitaan dan kefanaan. Allah saja menyebutnya sebagai “main-main”, senda gurau, dan penuh tipu daya.

Pernah ada seorang penyair yang hidup tanpa uang dan tidak punya apa-apa, padahal dia sedang dalam puncak keemasannya. Dia pernah berusaha mencarinya tapi tak mendapatkannya. Pernah mencoba menikahi seorang gadis tapi gagal. Namun setelah usianya sudah lanjut, rambutnya telah beruban, dan tulang-tulangnya telah mulai rapuh, harta yang datang sendiri kepadanya dari mana saja tanpa susah payah mencarinya, istri tak susah didapat juga tempat tinggal. Allah swt berfirman dalam Q.S: Al-Ankabut ayat 46 : “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

Dibalik Penciptaan Manusia di Dunia
Perumpamaan kehidupan ini adalah seorang musafir yang sedang bernaung di bawah sebatang pohon, yang sejenak kemudian pergi dan meninggalkan pohon itu. Kehidupan dunia juga diibaratkan lamanya hanya sekedar masa untuk menumpang minum. Minum yang diperlukan untuk menghilangkan dahaga, hanya sementara dan tak butuh waktu yang lama.

Saudaraku, masih ingatkah kita dengan materi pelajaran pendidikan agama islam sewaktu SMP/MTs atau SMA/SMK/MA? Ketika guru agama islam menyatakan bahwa hakikat penciptaan manusia di dunia adalah untuk beribadah kepada Alloh swt (Q.S: Adz-dzariyat:56). Selain itu, manusia diciptakan di alam dunia ini dengan misi yang diamanahkan kepada kita yaitu untuk menjadi seorang kholifah di muka bumi (QS: Al-Baqarah:30). Dunia bukanlah semata-mata warisan untuk anak cucu manusia, tetapi sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah Yang Maha Kuasa.

Kehidupan Dunia
Sebuah realita tentang kehidupan dunia abad ini diterjemahkan sebagai kehidupan yang sementara, tempat untuk bersenang-senang, kehidupan modern, kehidupan yang abadi dan sebuah kehidupan yang fana. Di sisi lain kehidupan dunia dipandang sebagai jembatan menuju kehidupan setelah mati (akhirat), tempat mencari amal kebajikan, tempat menimba ilmu pengetahuan dan lain-lainya. Berangkat dari pemahaman di atas maka nyatalah kehidupan dunia yang fana ini hanyalah sebuah ujian bagaimana mengemban tugas-tugas kehidupan dan amanat kemanusiaan. Dengan demikian, manusia akan merasa puas dan hidup tidak menjadi sia-sia tanpa melemahkan semangat berjuang dalam kehidupan.

Akhirnya, dapatlah digambarkan bahwa persepsi kehidupan dunia memiliki tujuan yang beragam, yaitu; kesenangan, kemegahan, kesehatan, kepintaran, kesuksesan, ketenteraman jiwa, ketenangan hidup dan kebahagiaan. Jikalau manusia menjadikan kehidupan dunia sebagai bentuk yang mempesonakan terhadap kemewahan harta, kebanggaan memiliki anak-anak dan lainnya, atau sangat mencintai perabot kehidupan duniawi, sehingga lalai dan lupa akan sebuah hakikat, maka islam menjawabnya, bahwa semua bentuk kesenangan dunia tersebut bersifat temporer, sebuah sandiwara, permainan dan kesenangan sesaat.

Fitrah manusia itu menyukai yang indah dan mencari kebahagiaan. Dunia memberikan fatamorgana yang nampak secara visual akan hal tersebut. Maka kebanyakan manusia pun terjebak dengan fatamorgana tersebut. Islam adalah agama yang sesuai fitrah manusia. Islam menawarkan kehidupan akhirat yang kekal sebagai tempat bersenang-senang yang abadi, dan hal ini tentunya menjadi kabar gembira bagi mereka yang percaya kepada Allah dan kehidupan di akhirat.

Ada beberapa dalil Al Qur’an dan Hadits Nabi SAW di bawah ini yang bisa dijadikan pedoman bagi manusia dalam menyikapi kehidupan dunia, dan mungkin sebagai renungan kita bersama, diantaranya adalah:

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di Akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhoan- Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (Q.S. al Hadid: 20).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. (al Munafiqun: 9).
Saudaraku mari kita buka mata, ketahuilah bahwa kebanyakan manusia lebih cenderung menyibukkan dirinya dengan kesuksesan duniawi, namun lalai akan mengerjakan amal shalih. Manusia mampu seharian duduk di kantornya, namun ketika suara azan memanggilnya untuk sholat dilalaikan. Apalah artinya segudang ilmu dan kekayaan, namun sholat saja masih dilalaikan.

Bukanlah maksud untuk merendahkan eksistensi dunia, karena apapun yang diciptakan oleh Alloh swt itu sejatinya selalu bermanfat jika manusia itu mengetahui dan tidak melampaui batas. kehidupan dunia adalah sebuah ketentuan Allah (sunnatullah) yang tidak mungkin ada seorangpun yang mampu merubahnya. Seperti halnya perputaran langit dan bumi, tanam-tanaman yang tumbuh subur, gunung-gunung yang Allah tinggikan dan tangguhkan, lautan dan daratan yang terbentang luas. Kemudian dalam kehidupan dunia dijadikan tempat untuk bercocok tanam, berternak dan lainnya. Dunia merupakan tempat manusia berkembang biak dan meneruskan sejarah. Semua penciptaan ini merupakan sunnatulah yang harus disyukuri oleh manusia sebagai makhluk yang lemah di hadapan Allah swt. Inilah dari tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah swt Yang Maha Kuasa bagi orang-orang yang mau merenungi.

Bagi orang-orang yang beriman, Allah menjadikan kehidupan dunia sebagai jembatan untuk kehidupan yang kekal (akhirat). Allah membimbing mereka meraih dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan di dunia dan akhirat, serta mengajarkan mereka untuk mencari nafkah di dunia tanpa melalaikan waktunya untuk mengingat Allah. Dan juga memberikan kabar gembira sekaligus menuntun mereka dengan ajaran islam bahwa kehidupan dunia sebagai kehidupan untuk bertaubat dan mencari bekal di akhirat. Karena itu Allah menganjurkan manusia supaya teliti dengan kehidupan dunia ini agar hidup tidak sia-sia. Membimbing manusia sebagai makhluk yang pandai bersyukur. Semua ini tidak lain hanyalah ujian bagi orang-orang yang beriman kepada Nya dan mengikuti ajaran islam.

Salah satu cara yang membuat kita selamat dari fitnah dunia adalah zuhud. Ibnu Taimiyah mengatakan sebagaimana dinukil oleh muridnya, Ibnu al-Qayyim bahwa zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat. Zuhud tidak diartikan dengan mengesampingkan dan meninggalkan dunia secara bulat-bulat. Rasulullah tidak menafikkan kehidupan dunia, Beliau memerintahkan kita bekerja mencari rezeki sebagaimana dalam sabda beliau, “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri. Sesungguhnya nabi Allah, Dawud, makan dari hasil kerja tangannya.” (HR. Bukhari, III/8 hadits no. 1930).

Dan Rasulullah telah memerintahkan umatnya untuk menikah. Beliau saw bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang telah mempunyai kemampuan (lahir dan batin) untuk menikah, maka hendaklah dia menikah. Sesungguhnya pernikahan itu dapat menjaga pandangan mata dan menjaga kehormatan. Sedangkan untuk yang tidak mampu, hendaklah berpuasa karena puasa itu dapat menjaganya (yaitu benteng nafsu).” (HR. Bukhari, VI/117).

Beliau juga memerintahkan kaum muslimin menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun dunia, sebagaimana sabdanya, “Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.” (Ibnu Majah hadits no. 220. Hadist Sahih, lihat Kitab Al-Jami’ As-Shahih no. 3808 karya Al-Bani).

Bagi seorang muslim, kita seyogyanya menjadikan dunia ini seperti keberadaan sebuah toilet. Kita membutuhkannya tapi tidak terlalu kita pikirkan keberadaannya, karena dunia adalah permainan dan sendau gurau belaka. Semoga Allah menjadikan dunia ini berada di tangan kita dan menjadikan akhirat berada di hati kita. Amien.

Betapa banyak manusia yang mengaji agama dan mendapat nilai sempurna di dunia, walaupun ada manusia yang tak mengaji dan mendapat nilai sempurna. Ada juga manusia yang mengaji agama yang tak mendapat nilai sempurna di dunia, tetapi lebih banyak lagi orang yang tak mendapat nilai sempurna di dunia dan dia tak mengaji agama pula. Kecerdasan bukanlah saat manusia bisa meraih kesempurnaan di kehidupan dunia, tetapi kecerdasan adalah ketika manusia mencari bekal untuk kehidupan selanjutnya (kehidupan akhirat). Ngaji yuuuuuk…….


download pdf file

0 komentar:

Poskan Komentar

Tafadhol antum / antunna mengkomentari posting di atas. Syukron.