rubrik profil buletin asy syifa' bulan agustus 2011

PROFIL ON STAGE

Pak Suranto, Satpam Gd. A FK UNS

Alhamdulillah Saya Merasa Dimudahkan

Kali ini Buletin Asy syifa menampilkan sosok yang mungkin kita temui hampir setiap pagi, tapi sering tidak kita perhatikan. Sosok yang hebat yang senantiasa menjaga ketertiban dan keamanan di seantero FK UNS.

Beliau adalah Bapak Suranto, salah satu satpam yang bertugas di gedung A kampus FK UNS Kentingan. Bapaknya ini sudah jadi satpam sejak tahun 1999 dan menurut pengakuan beliau, Pak Suranto selalu dapat shift pagi, dari jam 7.00-14.00 (jadi kalau mau nyari bapaknya ya kira-kira jam segitulah..). Berikut petikan wawancaranya:

Menurut pandangan bapak, pekerjaan satpam itu bagaimana?

Pekerjaan satpam itu, halal dan baik.

Pak, sebenarnya tugas satpam itu apa sih?

Tugas satpam itu adalah pengawasan, keamanan, dan ketertiban lingkungan di fakultas kedokteran. Konkretnya ya kalau ada orang yang mencurigakan datang ke FK, kita awasi jangan sampai ada pencurian ato kehilangan. Kalo ada pencuri kita tangkap. Kalau dalam hal ketertiban ya misalnya mengatur parkir, termasuk gembosi ban mahasiswa kalo dia parkirnya ga di tempatnya (hehe..red). Untuk yang terakhir ini sebenarnya kita kasihan juga, tapi itu demi kebaikan bersama karena kalo parkirtidaka di tempatnya itu mengganggu pengguna parkir yang lain.

Selama Bapak bekerja di sini, pernah ga terjadi pencurian di FK, pak?

Pernah. Dulu kampus itu jadi ladang untuk pencurian motor, tapi alhamdullillah sekarang sudah tidak. Kalau sekarang yang agak marak itu pencurian helm. Sejauh yang saya tahu, selama ini kejadian kehilangan itu pasti TKP nya bukan di tempat parkir yang benar. Jadi kalau naruh motor ditaruh di tempat parkir yang disediakan, biar satpam bisa ikut mengawasi. Juga helm. Kalau helmnya yang mahal, itu dititipkan ke pos satpam saja, atau minimal dikunci di jok. Meskipun kalau dikunci di jok itu masih bisa tetep diambil dengan digunting talinya, tapi kalau seperti itu harga jualnya sudah turun. Pencurinya akan pikir-pikir lagi dan nyari helm lain yang ga susah untuk diambil.

Suka-dukanya jadi satpam pak?

Sukanya itu kalau bisa nangkap pencuri, atau bisa bantu nyariin barang mahasiswa yang hilang. Itu rasanya puas, senang. Terus juga kalau bisa bantuin mengatur parkir mobil-mobil sekitar gedung A ini biar tertib.

Kalau ga enaknya jadi satpam itu, kadang satpam jadi tempat kekesalan, meski kadang itu bukan kesalahan satpam. Misalnya kalau sound di RK rusak, nanti ngadunya ke satpam, padahal itu bukan tugasnya satpam, tapi ya tetep kita bantuin. Terus kalau ruang kuliah belum dibukain, padahal mau digunakan kuliah atau ujian, nanti satpam dimarahi. Padahal sesungguhnya satpam itu tidak diberi tahu, tidak diberi jadwal dari atas. Apalagi kalau acara-acaranya pas hari libur kaya gini kan kami tidak ngerti, tapi tiba-tiba ditegur karena ruangan belum dibuka (kebetulan waktu itu redaksi mewawancara pak satpam pas hari Sabtu dan ternyata di hari itu ada ujian PPDS di RK 2, tapi pak satpam tidak diberi tahu -red).

Kegiatan di luar selain jadi satpam?

Setiap sabtu dan senin ba’da Isya main badminton sama teman-teman. Kalau lainnya saya sibuk pengajian. Tiap rabu malam saya ngaji, kamisnya saya yang ngisi pengajian bapak-bapak di kampung. Jumatnya saya ngaji lagi. Hari Ahad saya ngajak keluarga untuk ikut pengajian umum.

Subhanallah, rajin banget kajian pak? Ga mengganggu kegiatan lain?

Soalnya rasanya itu kalau jauh dari mengingat Allah itu rasanya risau. Ga enak, seperti itu. Dan Alhamdulillah saya merasa dimudahkan. Dulu saya pernah jualan angkringan, angkringan saya special, tidak menyediakan rokok, serta dilarang merokok dan minum-minuman keras di situ, tapi lama-lama angkringannya jadi sering tutup karena bentrok sama jadwal ngaji saya. Pelanggan protes, tapi akhirnya angkringannya yang saya kalahkan. Lalu, Allah memberi ganti yang lebih baik. Waktu itu saya ketemu teman saya yang jadi bagian rumah tangga di UNS pusat, dia nawarin saya untuk jadi satpam. Lalu saya ikuti segala prosedurnya dan saya diterima. Sejak saat itu saya jadi satpam. Dan Alhamdulillah, 11 tahun saya jadi satpam saya belum pernah dapet shift malam. Jadi ya bisa jalan keduanya (ngaji dan jadi satpam-red).

Prinsip hidup bapak apa?

Saya punya prinsip tidak suka diberi, tidak suka dibantu, apalagi meminta kepada manusia. Saya maksimalkan usaha dari saya sendiri dan buat saya minta itu hanya kepada Allah. Karena Allah sudah memberi saya kemampuan, dan saya yakin Allah pasti memberi jalan.

Kesan mahasiswa FK di mata bapak seperti apa?

Menurut saya makin lama etika nya mahasiswa FK itu kurang. Cuek, jarang menyapa. Tapi ya mungkin itu budaya juga, saya tidak menyalahkan sepenuhnya.

Pesannya untuk mahasiswa FK?

1. Yang pertama istiqamah. Karena yang saya lihat, kadang ketika mahasiswa masih bagus, shalat masih khusyuk, tapi setelah lulus jadi dokter jadi shalat saja seperti ga punya waktu. Untuk mempertahankan itu, carilah/berkumpullah dengan orang-orang shaleh, karena godaan di dunia ini berat, apalagi sekarang pergaulan sudah makin bebas.

Coba baca QS. Kahfi ayat 28:

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharap perhiasan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.”

2. Pesan saya yang kedua adalah bersungguh-sungguhlah dalam kebaikan, biar hasilnya maksimal. Man jahada fiinaa lanahdiyannahum subulanaa (barangsiapa bersungguh-sungguh di jalan kami, maka akan kami tunjukkan jalannya). (subhanallah, bapaknya keren banget kan, itu sebenarnya yang QS. Al Kahfi ayat 28 tadi bapaknya ngasih penjelasan tafsirnya juga, tapi karena terbatasnya tempat di bulletin ini, terpaksa tidak kami cantumkan- red).

3. Terus pesan selanjutnya juga kalau pas di mushala itu jangan ramai-ramai, mengganggu orang shalat. Mushala kita kecil, suara dari akhwat bisa terdengar di ikhwan dan sebaliknya.

Sedikit cerita sebelum jadi satpam:

Dilahirkan dari ayah dan ibu yang buta huruf dan kakak-kakak yang tidak bersekolah, beliau tetap semangat untuk mengikuti pendidikan. Meski harus belajar sambil bekerja (pagi-siang sekolah, malam bekerja di pedaringan) beliau tetap berprestasi. Waktu SD juara 2 di kelas, SMP sering ranking 10 besar (sering, soalnya pernah ranking 11, hehe) dan waktu SMP itu beliau juga sering menjadi juara di lomba-lomba pidato. Namun, waktu SMA bapak ini mengakui kalau prestasinya nge-drop sampai pernah menduduki ranking 5 besar dari bawah.. kenapa? Menurut analisa bapaknya sendiri karena beliau salah pergaulan, akhirnya terpengaruh jadi merokok, hura-hura, dan beberapa kebiasaan buruk lainnya, (tuh kan, teman itu sangat berpengaruh bro,, -red), tapi Alhamdulillah, setelah mengikuti pengajian-pengajian itu, beliau paham kalo berbuat buruk itu = mendzalimi diri sendiri. Jadi, yang buruk-buruk itu musti ditinggalkan dan dihindari semaksimal mungkin. Sekarang beliau malah aktif untuk mengajak pada kebaikan dan mencegah kemunkaran.


0 komentar:

Poskan Komentar

Tafadhol antum / antunna mengkomentari posting di atas. Syukron.