rubrik bahasan utama bulton asy-syifa' bulan agustus 2011

Menggapai Kautamaan di Ramadhan Mubarak

Ikhwati fillah, tak terasa waktu terus berlalu dan tanpa kita sadari satu detik yang baru saja kita lewati telah menjadi sebuah kenangan. Ya, waktu akan terus berjalan tanpa menghiraukan mereka yang sedang melakukan perenungan. Waktu akan terus berjalan dengan mengacuhkan mereka yang hanya memikirkan penyesalan. Jika hanya itu yang bisa kita lakukan, telah banyak waktu yang kita sia-siakan. Maka manfaatkanlah waktu dengan melakukan kegiatan positif, tentunya kegiatan yang dapat mengundang ridhlo dari Allah swt.

Ikhwati fillah, berbicara tentang bergulirnya waktu, tak terasa sebentar lagi kita akan berjumpa dengan bulan yang penuh berkah, Ramadhan. Bagaimana perasaan antum wa antunna saat mengetahui bahwa Ramadhan akan segera menyapa? Apakah perasaan antum wa antunna senang serta gembira dengan mengetahui bahwa Ramadhan akan segera menyapa? Atau ada juga yang merasa khawatir, takut, dan was-was karena adanya ketidakpastian apakah kita masih akan diberikan kesempatan untuk bisa merasakan nikmatnya Ramadhan? Jika memang demikian, fa InsyaAllah itu merupakan perasaan yang baik. Selayaknya kedua insan yang berpisah karena Allah, maka pertemuan adalah hal yang paling dinantikan oleh keduanya. Sehingga ketika menunggu, kita akan merasa cemas dan was-was karena takut perjumpaan itu tidak pernah akan terwujud. Maka benarlah bahwa menunggu itu sangat menjemukan sebab banyak ketidakpastian di dalamnya. Untuk itu, mari kita kuatkan kesabaran dan bermunajat pada Sang Pencipta pemilik segala kehendak, Semoga kita semua masih diberikan kesempatan untuk menikmati berkah bulan Ramadhan tahun ini, Amin.

Hmmm.. Sebelum saya lanjutkan, adakah diantara kita yang merasa biasa saja atau bahkan tidak senang dengan datangnya bulan Ramadhan? Semoga itu tidak terjadi pada diri kita. Namun jika itu yang dirasakan, maka betapa ruginya kita. Ada beberapa kemungkinan penyebab timbulnya perasaan biasa saja itu. Bisa karena kurang pemahaman atau lupa atas kemuliaan dan keutamaan bulan Ramadhan ataupun dengan berbagai alasan lainnya. Untuk itu, pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang keutamaan bulan Ramadhan. Diharapkan agar kita bisa merasakan rindu serindu-rindunya pada Ramadhan.

Ikhwati fillah pasti sering mendengar ada sebuah hadist yang sering dibacakan pada saat tausiyah tarawih yang berbunyi seperti ini, 10 hari pertama Ramadhan adalah hari-hari Rahmat, 10 hari pertengahannya maghfirah dan 10 hari terakhirnya pembebasan dari api neraka. Sayang sekali menurut Imam al-Suyuti hadist ini adalah hadist dhoif, sedangkan menurut Syeikh Muhammad Nashir al-Din al-Albani merupakan hadist munkar. Hal ini disebabkan karena adanya dua perawi hadist yang dituduh sebagai pendusta. Maka hadist ini tidak bisa dijadikan pegangan. Namun bukan berarti keutamaan Ramadhan hilang dengan dhoifnya hadist tersebut. Berikut akan saya sampaikan beberapa keutamaan Ramadhan yang telah termaktub dalam Al Qur'an maupun Hadist shahih lainnya.

Sesuai dengan firman Allah swt. yang tertulis dalam Q.S. Al Baqarah ayat ke 183 sampai 185, dapat disimpulkan bahwa setiap orang beriman diwajibkan untuk berpuasa satu bulan penuh pada bulan Ramadhan. Dari dua belas bulan yang ada, Ramadhanlah yang terpilih sebagai waktu peribadatan puasa. Puasa merupakan ibadah yang sangat istimewa. Sebuah potongan hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim menerangkannya sebagai berikut; Dari Abu Hurairah ra., dia berkata: “Rasulullah bersabda: “Allah berfirman: Setiap amalan anak Adam adalah untuknya sendiri melainkan puasa, karena puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya…” Dari hadist tersebut dapat dipahami bahwa nilai ibadah puasa tidak sama dengan ibadah-ibadah lainnya. Jika ibadah-ibadah lain sudah mempunyai takaran balasan masing-masing, maka lain halnya dengan puasa. Balasan untuk ibadah puasa adalah sesuai dengan kehendak dari Allah swt. Tidak hanya itu, dalam hadist riwayat Bukhori-Muslim lain diterangkan bahwa puasa menyebabkan seorang hamba dijauhkan dari api neraka selama tujuh puluh tahun dan mendapat kesempatan istimewa dengan masuk ke surga melalui jalur khusus, yaitu pintu Ar Rayyan. Ibnu Majah dan Al Hakim juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda yang isinya menjelaskan bahwa orang yang berpuasa mempunyai doa yang tidak ditolak ketika ia berbuka puasa. Dengan keutamaan puasa tersebut, maka secara tidak langsung juga mengakibatkan adanya keutamaan pada bulan Ramadhan. Telah disinggung di atas bahwa dari dua belas bulan kalender Hijriah yang ada, hanya bulan Ramadhan yang terpilih sebagai bulan diwajibkannya berpuasa.

“Shalat lima waktu, shalat Jum’at ke shalat Jum’at berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan selanjutnya itu menghapus dosa-dosa di antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (H.R. Muslim). Hadist di atas menerangkan kepada kita tentang keutamaan lain pada bulan Ramadhan. Ya, bagi mereka yang beriman dan menjalankan perintah-Nya serta melakukan taubatan nasuha, maka dosa-dosa diantara Ramadhan tahun lalu dengan Ramadhan yang sekarang niscaya akan diampuni oleh Allah swt.

Selain keutamaan-keutamaan di atas, Ramadhan juga mempunyai keutamaan lain di salah satu harinya. Dijelaskan dalam Q.S. Al Baqarah ayat ke 185 bahwa permulaan Al Qur’an di turunkan saat bulan Ramadhan. Diturunkannya wahyu Al Qur’an pertama kali yaitu surah Al-‘Alaq ayat 1-5 pada tanggal 17 Romadhlon, maka malam pada tanggal tersebut disebut malam Nuzulul Qur’an.

Malam ganjil pada minggu terakhir bulan Ramadhan boleh jadi merupakan malam Lailatul Qadr. Malam Lailatul Qadar tidak bisa kita ketahui apakah turun pada malam ke-21. Ke-23, ataupun malam ganjil lainnya. Malam Lailatul Qadar sendiri adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam yang penuh dengan keberkahan dan kemuliaan. Hal ini bisa kita lihat bersama pada firman Allah yang terdapat pada Q.S. Al Qadr ayat 1-5 dan Q.S. Ad Dukhan ayat 3

Sebagai seorang yang beriman, kita disunnahkan untuk mencari dan menjemput malam kemuliaan itu, sebagaimana Rasulullah saw. yang lebih menggiatkan ibadahnya pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan untuk mencari Lailatul Qadr. Padahal seperti kita ketahui bersama bahwa Rasulullah saw adalah orang yang paling giat ibadahnya diantara kita semua, bahkan di setiap waktu. Mungkin tidak akan pernah terbayangkan oleh kita, seperti apa giatnya Rasulullah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan sedangkan pada waktu-waktu biasa saja giatnya beliau sudah mengungguli giat paling giatnya kita.

Berikut hadist yang menganjurkan kita agar mencari Lailatul Qadr; Dari Aisyah ra. bahwasanya Rasulullah bersabda: “Carilah lailatul qadr itu pada hari ganjil dari sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan.” (H.R. Bukhori).

Itulah beberapa keutamaan yang ada pada bulan Ramadhan.Karena keutamaan-keutamaan yang dimiliki bulan Ramadhan, maka pada bulan ini kita diperintahkan agar memperbanyak ibadah. Beberapa bentuk ibadah yang dianjurkan pada bulan Ramadhan diantaranya adalah bersedekah, qiyamul lail, I’tikaf, serta umrah.

Bersedekah di bulan Ramadhan bisa berupa berbagi makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Mengenai hal ini, Rasulullah Saw.bersabda, “Barangsiapa memberi makanan untuk berbuka puasa kepada orang yang berpuasa, ia berhak atas pahalanya tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa.”(H.R. Ahmad dan Tirmidzi).

Rasulullah sangat menjaga shalat malamnya ketika memasuki Ramadhan, terlebih pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. “Kebiasaan Rasulullah jika telah masuk sepuluh (akhir Ramadhan), beliau menghidupkan malamnya, membangunkan istrinya, bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarungnya (tidak menggauli istrinya untuk beribadah).” (H.R. Bukhori-Muslim).

Selanjutnya ibadah yang berupa i’tikaf atau berdiam diri di masjid. Maksudnya adalah menetap dan tinggal di masjid dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dengan cara-cara yang telah ditetapkan. Berikut hadist yang menerangkan bahwa Rasulullah Saw. melakukan i’tikaf: Dari Aisyah ra. bahwasanya Nabi Saw. selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan hingga Allah mewafatkannya kemudian istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau.” (H.R. Bukhori-Muslim).

Mengenai umrah di bulan Ramadhan, Rasulullah Saw. bersabda, “Umrah di bulan Ramadhan sama dengan haji bersamaku.” (Muttafaq Alaih). Untuk ibadah yang satu ini tentunya tidak mudah bagi orang Indonesia. Selain karena masalah jarak yang harus di tempuh sangatlah jauh, ibadah ini juga memerlukan dana yang cukup besar. Bagi yang mampu dan ingin menambah timbangan amal untuk bekal akhirat kelak, maka tidak ada salahnya untuk melakukan umrah di bulan Ramadhan. Bagi yang belum mampu, mari kita berusaha beramal di bidang lain. Karena di dalam Islam sangat banyak sekali cara beramal yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah saw bahkan senyum pun bisa bernilai ibadah.

Semoga dengan adanya penjelasan-penjelasan di atas dapat meningkatkan kerinduan kita pada Ramadhan. Mari kita sambut Ramadhan, Marhaban ya Ramadhan! Wallahu’alam bish showab.

Sumber:

Ensiklopedi Muslim Minhajul Muslim karya Abu Bakr Jabir Al Jazairi

Tarjamah Riyadus Shalihin jilid 2 karya Imam Nawawi

0 komentar:

Poskan Komentar

Tafadhol antum / antunna mengkomentari posting di atas. Syukron.