rubrik aqidah buletin asy-syifa' bulan agustus

Mengeja Makna Iman

Tiga manusia itu sedang melintas di sebuah lembah. Kosong, gersang, terik, liar, tak berpenghuni. Tak tampak hewan, tak terlihat tanaman. Mereka adalah seorang lelaki yang mulai menua, dan seorang wanita yang menggendong bayinya yang masih merah. Rasa lelah membuat mereka berhenti. Dan sang bayi yang kehausan mulai menetek pada ibunya.

Tetapi laki-laki itu, suaminya yang shalih, tiba-tiba saja berjalan ke arah utara. Sang istri sekilas melihat kaca-kaca di pelupuk matanya. Hingga sang istri kemudian sadar, bahwa ia dan bayinya telah ditinggalkan. Maka ia mencoba menyusul dengan bayi merahnya dalam gendongan. “Mengapa kau tinggalkan kami, hai Ibrahim?” serunya penuh tanya. Ibrahim, lelaki itu, tak menjawab. Ia hanya berhenti sejenak, menahan isak. “Mengapa kau tinggalkan kami, hai Ibrahim?” Tanya nya untuk kedua kali. Ibrahim masih diam. Dalam hatinya berkecamuk sejuta rasa. Dia yang menanti-nanti kelahiran buah hati berpuluh tahun lamanya. Dia yang melalui malam-malamnya dengan doa, memohon ada tangis kecil memecah kesunyian rumahnya. Kini, Allah telah memberikan anugerah itu, Ismail. Dan kini, Allah memintanya meninggalkan Ismail dan ibunya di tanah tak berpenghidupan ini. Ia akan merasa sepi lagi. Ia akan dilanda kekhawatiran tak bertepi. Tetapi, apa daya seorang hamba? Dan mengapa harus berprasangka kepada Allah tak semestinya? Ya, ia ridha dengan perintahNya. Hanya saja ia tak sanggup menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Hajar. Hatinya gerimis.

“Apakah ini perintah Allah?”, tiba-tiba Hajar mengubah pertanyaannya. Ibrahim terhenyak, ia berhenti sesaat, lalu berbalik. “Ya”, katanya. Helaan nafas panjang dan berat. “Ini perintah Allah.”



“Ya Rabb kami, sungguh telah kutempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tak bertanaman di dekat rumahMu yang dihormati. Ya Rabb kami, agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan karuniakanlah pada mereka rizqi dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.” ( QS.Ibrahim ayat 37).

Makna Iman

Kawan, apakah iman itu? Mari kita simak sama-sama keterangan dari majelis Rasul yang mulia. Ketika nabi ditanya apa itu iman? Jawab beliau “iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhir, dan beriman kepada qadar, baik dan buruknya” (HR. Muslim)

Iman ini mengandung 3 hal pokok. Keyakinan, perkataan, dan perbuatan. Begitulah prinsip-prinsip aqidah ahlus sunnah wal jama’ah. Maka, iman itu bukan hanya perkataan dan perbuatan tanpa keyakinan seperti kaum munafiq.

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar RasulNya dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta. (QS. Al Munafiqun ayat 1)

Iman bukan pula hanya sekedar keyakinan dalam hati atau keyakinan dan perkataan tanpa amal. Allah seringkali menyebut amal perbuatan termasuk iman sebagaimana tersebut dalam firmanNya:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang apabila ia disebut nama Allah tergetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah bertambahlah imannya dan kepada Allah lah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, dan yang menafkahkan apa-apa yang telah dikaruniakan kepada mereka, merekalah orang-orang mukmin yang sebenarnya… (QS. Al Anfal ayat 2-4)
Meski iman sangat terkait dengan amal, namun bukan berarti kita dengan mudah dapat mengkafirkan orang. Seorang pelaku dosa besar, selain syirik, tidak dihukumi kafir, akan tetapi dihukumi fasiq dan imannya tidak sempurna. Apabila dia mati sedang dia belum bertaubat, maka dia berada dalam kehendak Allah. Jika dia berkehendak, Dia akan mengampuninya dan jika Dia berkehendak, Dia akan mengazabnya, namun si pelaku ini tidak kekal di neraka. Begitulah mahdzab ahlus sunnah wal jama’ah.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa-dosa selainnya bagi siapa yang dikehendakinya…” (QS. An Nisaa’:48)

Iman ini bisa bertambah dan berkurang. Bertambah dengan ketaatan dan mengkaji tanda-tada kekuasaanNya, dan dapat berkurang bila melakukan kemaksiatan. Dalilnya seperti dalam firman Allah:
“Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (Arti dari QS. Al Fath: 4)

Jika surga itu nyata, mengapa masih bersantai?
Jika neraka memang ada, untuk apa bermaksiat?
-Ibnu Hanbal-

Sumber :
1. Salim A. Fillah. 2010. Jalan Cinta Para Pejuang. Yogyakarta: Pro-U Media
2. Syarah Arbain An Nawawiyah Disyarahkan oleh Imam Nawawi, Al Imam Ibnu Daqiq Al-‘Id, Syaikh abdurrahman As-Sa’di, Syaikh Muhammad Al Utsaimin.
3. DR. Shaleh bin Fauzan Al Fauzan. Prinsip-Prinsip Aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaa’ah. Penerjemah Abu Aasia. Jakarta: Daarus sunnah

0 komentar:

Poskan Komentar

Tafadhol antum / antunna mengkomentari posting di atas. Syukron.