rubrik ibroh buletin asy syifa bulan agustus 2011

Obsesi Bening Muhammad Al Fatih

Obsesi tujuh abad itu bergemuruh di dada seorang Sultan muda, baru 23 tahun usianya. Tak sebagaimana lazimnya, obsesi itu bukan mengeruhkan, melainkan semakin membeningkan hati dan jiwanya. Ia tahu, hanya seorang yang paling bertakwa yang layak mendapatkannya. Ia tahu, hanya sebaik-baik pasukan yang layak mendampinginya. Maka di sepertiga malam terakhir menjelang penyerbuan bersejarah itu ia berdiri di atas mimbar, dan meminta semua pasukannya berdiri.

“Saudara-saudaraku di jalan Allah”, ujarnya.

“Amanah yang dipikulkan ke pundak kita menuntut hanya yang terbaik yg layak mendapatkannya. Tujuh ratus tahun lamanya nubuat (nubuwah) Rasulullah telah menggerakkan para mujahid tangguh, tetapi Allah belum mengizinkan mereka memenuhinya. Aku katakan pad kalian sekarang, yang pernah meninggalkan shalat fardhu sejak balighnya, silakan duduk!”

Begitu sunyi. Tak seorang pun bergerak.
“Yang pernah meninggalkan puasa Ramadhan silakan duduk!”

Andai sebutir keringat jatuh ketika itu, pasti terdengar. Hening sekali, tak satupun bergerak.

“Yang pernah mengkhatamkan Al Qur’an melebihi sebulan, silakan duduk!”
Kali ini, beberapa gelintir orang perlahan menekuk kakinya. Berlutut berlinang air mata.
“Yang pernah kehilangan hafalan Al Qur’an-nya, silakan duduk!”
Kali ini lebih banyak yang menangis sedih, khawatir tak terikat menjadi ujung tombak pasukan. Mereka pun duduk.

“Yang pernah meninggalkan shalat malam sejak balighnya, silakan duduk!”
Tinggal sedikit yang masih berdiri, dengan wajah yang sangat tegang, dada berdegup kencang, dan tubuh menggeletar.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ayyaamul Bidh, silakan duduk!”
Kali ini semua terduduk lemas. Hanya satu orang yang masih berdiri. Dia, sang Sultan sendiri. Namanya Muhammad Al Fatih. Dan obsesi tujuh abad itu adalah Konstantinopel.

Sejak kecil, ia berada dalam bimbingan Syaikh Aaq Syamsuddin. Mufti di istana Sultan Murad itu sering membacakan untuk Al Fatih sebuah hadist dari Rasulullah saw dari ‘Abdullah ibn ‘Amru ibn Al ‘Ash. Suatu ketika, shahabat Rasulullah yang zuhud, putra penakluk Mesir itu pernah ditanya, “Mana yang lebih dulu dibebaskan, Konstantinopel ataukah Roma?” Syukurlah ‘Abdullah pernah mencatat, bahwa Rasulullah ketika ditanyai pertanyaan yang sama menjawab, Kota Heraclius lebih dahulu. Yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pasukan. Dan pemimpinnya adalah sebaik-baik panglima.”

Hadist ini begitu menggelorakan Al Fatih kecil, mengusainya, dan membeningkan dirinya untuk menjadi ’sebaik-baik panglima’, atau setidak-tidaknya menjadi anggota ’sebaik-baik pasukan’. Ia menjauhi kehidupan mewah istana, berguru kepada para ulama, beribadah dengan khusyu’-nya.

Ya Allah, jadikan aku sebaik-baik pemimpin, atau sebaik-baik prajurit!”, pintanya dalam doa. Tiap pagi, dari puncak perbukitan di Bursa, dia memandang ke seberang utara Laut Marmara, ke arah Konstantinopel.

KONSTANTINOPEL. Visi besar yang bening itu menguasai Al Fatih. Membuatnya mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya. Membuatnya mampu melakukan hal-hal yang tak dinyana manusia. Seperti ketika dengan kayu gelondongan yang dilumuri lemak sapi, diseberangkannya kapal-kapal perang memasuki perairan Konstantinopel lewat darat karena sebelumnya sulit ditembus dari perairan.

Sahabat, Dalam Kehidupan kita membutuhkan obsesi yang bening untuk mengokohkan jiwa dan merambatkan cita. Obsesi yang dalam upaya pencapaiannya membuat kita berkata, “ini sulit, tetapi bisa” bukan berkata sebaliknya, “ini bisa, tetapi sulit”. Mari kita membangun obsesi menjadi Alfatih-alfatih berikutnya. Merujuk kepada hadits Rasululah saw Diatas, kota ROMA menanti kita. Hamasah!

Sumber : Salim Fillah, 2009. Jalam Cinta Para Pejuang. Yogyakarta: Pro-U Media

0 komentar:

Poskan Komentar

Tafadhol antum / antunna mengkomentari posting di atas. Syukron.