rubrik mutiara hadits buletin asy syifa edisi april 2011

KEPEMIMPINAN dan NAFSU

: نَّكُمْ سَتَحْرِصُوْنَ علي الإِمَارَةِ وَ سَتَكُوْنُ نَدَامَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِإِ
Rasulullah pernah bersabda ketika beliau menyampaikan hadits yg diriwayatkan dari Abu Hurairah “Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.”

Bagaimana tidak dengan menjadi seorang pemimpin memudahkannya untuk memenuhi tuntutan hawa nafsunya berupa kepopuleran penghormatan dari orang lain kedudukan atau status sosial yang tinggi di mata manusia menyombongkan diri di hadapan mereka, memerintah dan menguasai kekayaan kemewahan serta kemegahan.
!
Wajar bila kemudian untuk mewujudkan ambisinya ini banyak elit politik atau ‘calon pemimpin’ dibidang lainnya tidak segan-segan melakukan politik uang dengan membeli suara masyarakat pemilih atau mayoritas anggota dewan. Atau ‘sekedar’ uang tutup mulut untuk meminimalisir komentar miring saat berlangsungnya kampanye dan sebagainya. Bahkan ada yang ekstrim ia pun siap menghilangkan nyawa orang lain yang dianggap sebagai rival dalam perebutan kursi kepemimpinan tersebut. Atau seseorang yang dianggap sebagai duri dalam daging yang dapat menjegal keinginannya meraih posisi tersebut.

Berkata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin: “Seseorang yg meminta jabatan seringnya bertujuan untuk meninggikan dirinya di hadapan manusia menguasai mereka memerintahnya dan melarangnya. Rasulullah menyatakan kepada Abu Dzar bahwa kepemimpinan itu adalah sebuah amanah.

Kepemimpinan adalah amanah sehingga orang yang menjadi pemimpin berarti ia tengah memikul amanah. Dan tentunya yang namanya amanah harus ditunaikan sebagaimana mestinya. Dengan demikian tugas menjadi pemimpin itu berat sehingga sepantasnya yang mengembannya adalah orang yang cakap dalam bidangnya. Karena itulah Rasulullah melarang orang yang tidak cakap untuk memangku jabatan karena ia tidak akan mampu mengemban tugas tersebut dengan semestinya. Rasulullah juga bersabda:

فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ إِذَا وُسِّد الأَمْرُ إلى غَيْرِ أَهْلِها : كَيْفَ إِضَاعَتُها ؟ قال: قَالَ. مَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَإِذَا ضُيِّعَتِ الأَ
“Apabila amanah telah disia-siakan maka nantikanlah tibanya hari kiamat. Ada yg bertanya: Wahai Rasulullah apa yg dimaksud dengan menyia-nyiakan amanah? Beliau menjawab ‘Apabila perkara itu diserahkan kepada selain ahlinya maka nantikanlah tibanya hari kiamat”.”
Maraji’: Buletin Islam AL ILMU Edisi 5 / II / II / 1425

download artike format pdf :

0 komentar:

Poskan Komentar

Tafadhol antum / antunna mengkomentari posting di atas. Syukron.