profil on stage buletin asy syifa edisi april 2011

PROFILE ON STAGE
Tonang Dwi Ardyanto, dr., PhD. Bagian Patologi Klinik FK UNS

Profile on stage kali ini akan menampilkan salah seorang dosen yang mengampu bagian Patologi Klinik FK UNS. Beliau adalah Tonang Dwi Ardyanto, dr., PhD. yang saat ini masih menjalani pendidikan spesialis Patologi Klinik di FK UNS. Beliau ini memang sangat aktif dalam pengembangan dan pembinaan kegiatan kemahasiswaan, contohnya saja beliau adalah salah satu Pembina aktif Sentra Kegiatan Islam FKUNS 2011.
!
Ketika beliau ditanya tentang tema kali ini, yaitu Kepemimpinan Ala Rosulullah, beliau mengutarakan bahwa hal yang menarik adalah kemampuan Rosulullah mewadahi kepemimpinan politik dan kemasyarakatan dalam bingkai kepemimpinan religius. Beliau menjadikan aktivitas kepemimpinan politik dan kemasyarakatan itu sebagai bagian dari wujud realisasi keber-agama-annya sebagai Muslim dan Pemimpin Muslim. Olah pikir, ucap, sikap dan tindak sebagai pribadi maupun pemimpin, selalu didasarkan pada kesadaran agama dan ukhrawiyah, bukan pada ukuran-ukuran duniawiyah. Hal ini yang nampaknya tidak mudah kita dapati pada kondisi sekarang.
Walaupun demikian tidak berarti kepemimpinan Ala Rosulullah tidak mungkin. Kondisi memang berbeda, tantangan juga berbeda, tetapi esensi hidup sebenarnya tetap sama: kita seharusnya hidup sepenuhnya sebagai muslim, termasuk ketika kita diamanahi menjadi pemimpin. Olah pikir, ucap dan sikap, sepenuhnya dalam kendali kita. Bahwa dalam menjalankan operasional bisa saja muncul banyak tantangan dan tentangan.Namun, biarlah waktu yang membuktikan, selama kita tetap berpegang teguh pada yang kita yakini sebagai kebenaran.

Beliau juga menjelaskan sulit menyebut apakah kepemimpinan yang ada sudah ideal atau belum, apalagi yang semakin tinggi tataran kepemimpinannya. Kita mulai saja dari diri kita sendiri dan orang-orang yang berada di bawah kepemimpinan kita. Banyak contoh nyata dari Rasulullah SAW tentang pola kepemimpinan, namun satu kata kunci yang beliau pesankan adalah: menjadi orang pertama yang melakukan apa yang Rosulullah perintahkan, dan menjadikan orang pertama yang menghindari apa yang Rosulullah larang. Contoh seperti ini, akan menjadi inspirasi kuat bagi orang-orang disekitar Rosulullah, meskipun mungkin butuh waktu panjang untuk dapat menyebar luas. Keyakinan bahwa suatu saat, keteladanan pemimpin ini akan menjadi acuan bagi masyarakat luas harus ditanamkan pada setiap muslim.
Selanjutnya, dari setiap pribadi yang berusaha menjadi pemimpin teladan itu, akan terkumpul masyarakat yang siap mendorong dan memberi ruang bagi tampilnya pemimpin masyarakat yang penuh dengan keteladanan Islam. Tanpa dukungan masyarakat, sungguh berat amanah untuk menjadi pemimpin yang penuh teladan. Jalan menuju ke sana, boleh jadi, masih sempit dan sulit. Tetapi keyakinan tidak boleh pernah hilang.
Dosen PK ini menyebutkan civitas akademika sebenarnya memiliki tempat terhormat di masyarakat. Kita diharapkan menjadi sumber nilai dan inspirasi yang paling dapat bertahan menghadapi gelombang zaman, termasuk krisis kepemimpinan. Kita penuhi kewajiban kita itu, sebelum kita bisa berkiprah banyak dalam ikut menata ulang konsep kepemimpinan. Kewajiban institusi pendidikan maupun subyek yang berkecimpung di dalamnya untuk menata diri, kelompok dan institusinya, sehingga melahirkan nilai dan konsep kepemimpinan yang kokoh. Dengan demikian, civitas akademika layak berdiri tegak ikut menata tata kehidupan di masyarakat.

Beliau berpesan, sudah saatnya kepemimpinan moral yang kita dorong maju ke depan. Boleh jadi, kepemimpinan moral ini berjalan tertatih-tatih, tetapi jelas terus maju dan di jalan yang Insya Allah benar.

download artikel format pdf :

0 komentar:

Poskan Komentar

Tafadhol antum / antunna mengkomentari posting di atas. Syukron.