rubrik profil on stage buletin asy syifa bulan september


PROFIL ON THE STAGE

Sosok yang satu ini pastilah tidak asing bagi rekan-rekan civitas akademika. Namun meski sering mendengar nama beliau, tidak asyik ketika kita tidak mengenalnya lebih dekat. Nah dalam rubrik Profil On The Stage kali ini redaksi menampilkan sosok pembantu dekan III (PD III) yaitu Prof. Dr. dr. Mohammad Fanani, Sp.Kj (K). Beliau akdemisi sekaligus birokrat di fakultas kita tercinta. Tidak hanya ungul di intelektual tetapi segi emosional terkait religiusitas tidak perlu ditanya lagi. Ikhwatifillah selamt menikmati sajian untaian kata yang menguak sosok luar biasa ini dengan seksama..semoga manfaat.

Bisa tolong ceritakan tentang masa kecilnya Prof. ?

  • Proses membentuk kepribadian

Saat SD saya merasa saya kurang berani tampil dan pemalu. Contohnya ketika disuruh Paman untuk tampil di acara di desa, saya tidak mau walaupun sudah dibujuk akan diberi hadiah. Hingga akhirnya saya berfikir kalau begini terus saya akan jadi apa nantinya. Hingga akhirnya saya masuk SMP, dan saya memutuskan untuk berubah. Kemudian saya masuk organisasi PII. Saya bilang pada Ketuanya yang teman saya sendiri , kalau ada kegiatan apapun tolong saya dimasukkan ke dalam kepanitian entah apapun tugasnya. Dan ternyata benar, suatu ketika ada kegiatan peringatan Isra’ Mi’raj dan ketika itu saya diminta untuk menjadi pengerah masa. Lha saya udah ga bisa ngomong ga punya teman, eh malah disuruh jadi pengarah masa. Akhirnya karena saya sudah berjanji pada ketuanya, saya pun berkata sebisanya yang penting ngomong. Dan lagi suatu ketika ada kegiatan MTQ, tiba-tiba nama saya dipanggil untuk tampil di atas panggung. Whah akhirnya saya memaksakan diri juga untuk melakukannya.

(Kemudian beliau belajar dari pengalaman-pengalaman tersebut hingga akhirnya dapat berbicara di depan umum dan bahkan dapat mendapatkan pendapatan sendiri dengan hasil yang banyak.-red). Ya begitulah, ternyata saya sadari bahwa sikap pesimistis dan pemalu apabila dapat diatasi hasilnya bisa menjadi luar biasa.

  • Berwirausaha

Saya anak ke-8 dari 10 bersaudara. Sejak SD saya tidak pernah punya buku tulis, hanya satu dua kali saja dapat dari sekolah. Jaman dulu sangat jarang buku tulis, karena masih menggunakan batu sabak. Di SMA saya juga tidak punya buku teks, Cuma beberapa dapat dari kakak-kakak saya. Tapi kemudian saya masuk jurusan IPA, sedangkan kakak saya di IPS. Sehingga saya tidak punya buku teks. Saya punya buku teks ketika menjelang ujian. Whah betapa pusingnya saya.

Namun, kondisi yang semacam itulah yang akhirnya malah membuat kita mau berusaha. Saat kuliah saya mulai mencari uang karena kiriman uang dari orang tua cuma sekali dan jumlahnya tidak mencukupi. Sehingga saya kemudian mencoba untuk member privat. Padahal waktu itu di UNAIR pada angkatan pertama berlaku sistem DO untuk 1/3 angkatannya. Bisa dibayangkan betapa menegangkannya kondisi saat itu. Hingga akhirnya saya tidak meneruskan privat yang saya lakukan karena jarak tempuh yang jauh dan uang yang didapat tidak seberapa.

Nah suatu hari ketika saya dan teman-teman sedang belajar, banyak anak-anak SMA yang ikut belajar dan bertanya kepada kami. (anak-anak SMA sudah sering kali datang dan belajar). Akhirnya saya katakan kepada mereka, bahwa mereka mengganggu banyak orang ketika berada di sini. Maka kami pun mengatur jadwal agar mereka bisa datang pada hari Senin dan Kamis. Namun, mereka tetap mengganggu kegiatan belajar kami, sehingga saya berinisiatif untuk mengajari mereka di kosan. (Hingga akhirnya harus terus berpindah ke ruang kelas di dekat mushola, karena mengganggu bila berada di kosan dan mushola-red). Melihat ruang kelas yang luas, tetapi hanya berisi 5 anak dan alasan efisiensi membuat saya kurang nyaman. Sehingga saya menyuruh mereka membawa teman lainnya. Hingga akhirnya terkumpul 35 orang anak. Tanpa memberitahu kami, ternyata mereka tiap akhir bulan iuran dan ternyata jumlahnya pun lumayan banyak. (Singkat cerita bliau dan teman-teman mengajar selama 6 bulan, 35 orang siswa tadi bisa lulus dan hanya 2 orang yang masuk universitas swasta. 10 orang diantaranya berhasil masuk kedokteran-red)

Tahun-tahun berikutnya kami kebanjiran murid hingga akhirnya punya banyak karyawan dan memberikan penghasilan yang sangat besar waktu itu. Teman-teman sewaktu mahasiswa gini sudah bisa membeli mobil, tapi karena saya nge-kos sehingga tidak punya parkiran. Akhirnya uangnya saya belikan buku. (Singkat cerita para pendiri usaha ini membentuk yayasan, dan usaha ini berkembang dengan baik hingga bisa membuat cabang, mendirikan fotocopian, dan usah-usaha lainnya. Namun, usaha ini akhirnya harus terbengkalai karena pendirinya semua berpisah karena pemindahan tugas.-red)

Kehidupan saya yang paling membahagiakan adalah ketika saya menjadi mahasiswa. Rasanya menyenangkan ketika saya bisa membeli keperluan sendiri. Mau beli apa bisa karena punya usaha.

Ketika dalam menjalani kehidupan seperti apa cara Prof dalam menghadapi masalah ?

Ketika saya mengamati kembali pengalaman yang telah saya jalani, saya merasa setiap jenjang yang saya lalui selalu menghadapi cobaan. Ketika saya akan mengambil spesialis, kemudian ketika telah jadi spesialis pun ada masalah begitu seterusnya. Namun, setiap kali kita berusaha pasti Alloh akan memberi jalan.

(Di sini sebenernya banyak banget bliau cerita tapi saya bingung nulisnya gimana, karena ada beberapa yang tidak bisa ditulis dan privasi… Afwan)

Harapan untuk FK UNS

Alhamdulillah, saya melihat model KBK untuk mahasiswa FK cukup positif. Penelitian dan tulisan dari mahasiswa cukup berbobot. Mudah-mudahan hal ini menjadi awal yang baik untuk semua. Semoga mahasiswa FK UNS semakin banyak yang mengikuti kegiatan Nasional maupun Internasional. Dan semoga World Class University yang telah dicanangkan oleh rektor yang terdahulu bisa segera terealisir.

Yang kedua mengenai kehidupun religius di FK. Baik rektor yang terdahulu maupun rektor sekarang sudah begitu gencarnya menghilangkan kegiatan-kegiatan yang bersifat syirik di lingkungan UNS dan telah berusaha dengan menggantinya dengan kegiatan yang agamis. Oleh karena itu semoga kegiatan-kegiatan keagaman di lingkungan FK dapat berjalan dengan baik dan masif.

Berkaitan dengan amanah yang diperoleh sebagai Pembina PAI di Rektorat, beliau telah merencanakan untuk mengadakan kajian rutin untuk staff di Rektorat. Beliau akan menyampaikan mengenai budaya UNS yang dicanangkan oleh Rektor Prof. Rafik yang disingkat “ACTIVE”. A : Achievement orientation, C : Customer satisfaction, T : , I : Integrity, V : Visionary, dan E : Entrepreneur. Beliau mengatakan bahwa “ACTIVE”, telah ada pada Islam dan tidak akan pernah habis untuk dibahas, sehingga beliau akan mendorong staff untuk memahaminya dengan dasar-dasar agama. Sedangkan untuk dosen FK sendiri, insyaAlloh akan dilaksanakan pada setiap hari Rabu ganjil dari jam 7 hingga jam 8.

Pesan untuk Mahasiswa.

Program KBK telah menunjukkan sisi baik, walaupun sisi negatifnya tetap ada. Bagi mereka yang cenderung pada pembelajaran dengan metode lama, semoga bisa cepat beradaptasi. Model pembelajaran Student Centered Learning ini diperlukan karena ilmu tidak bisa dosen berikan seluruhnya. Nah, diharapkan mahasiswa bias berinovasi sendiri apalagi ditambah dengan adanya internet.

Sempat saya katakan kepada mahasiswa baru, “Pendidikan yang berhasil mana kala murid lebih pintar dari gurunya”. Murid yang masih muda memiliki daya ingat yang lebih baik dan mampu untuk memahami hal-hal baru dengan baik. Hal ini sangat bersesuaian dengan ilmu dan teknologi yang telah sangat pesat berkembang.

0 komentar:

Poskan Komentar

Tafadhol antum / antunna mengkomentari posting di atas. Syukron.