menjaga pandangan : buletin asy syifa bulan september


Dibalik Perintah Menjaga Pandangan

(Ghadhlul Bashar)

Pandangan mata adalah anugerah. Betapa tidak, dengannya kita bisa semakin merasakan kebesaran Allah serta keindahan ciptaannya. Melaluinya, kita dapat lebih mengenal diri sendiri, mengamati makhluk lain, hingga mencari inspirasi untuk membuat berbagai inovasi baru untuk masa depan. Subhanallah,, so, sebagai orang yang beriman, tentu kita harus mensyukurinya, menjaga agar nikmat ini tak berubah jadi azab.

Perintah Menjaga Pandangan

Banyak pepatah yang sudah sering kita dengar, “dari mata turun ke hati”, “mata adalah jendela dunia”, “pandangan mata merupakan panah beracun dari syaithan yang mengincar hati”. Semua pepatah tersebut menunjukkan betapa pentingnya pandangan mata itu. Karena itu perlu adanya aturan agar tidak salah menggunakannya sehingga terjerumus ke dalam hal yang di haramkan.

Imam al Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ ulumuddin menyebutkan bahwa mata adalah panglima hati. Hampir semua perasaan dan perilaku awalnya dipicu oleh pandangan mata. Bila mata dibiarkan memandang yang dibenci dan dilarang, maka pemiliknya berada di tepi jurang bahaya. Meskipun ia tidak sungguh-sungguh jatuh ke dalam jurang.

Karena pandangan memang begitu pentingnya mempengaruhi kehidupan seseorang, maka Islam sebagai agama yang sempurna, punya aturan soal ini. Simak dalam surah An-Nuur ayat 30-31, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat “. Dan pada ayat berikutnya “Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya” .

Dari kedua ayat ini jelas bahwa menjaga pandangan dan menahan kemaluan harus dilakukan baik oleh kaum laki-laki maupun perempuan yang beriman. Pandangan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah suatu pandangan yang mana pelakunya melakukannya secara berlebihan, penuh nafsu dan bukan pada tempatnya. Seperti memandang lawan jenis dengan berlebihan. Begitu pula halnya dengan menjaga kemaluan. Seorang yang beriman tentu terikat dengan aturan-aturan yang sesungguhnya akan menyelamatkannya dari hal-hal yang merugikan. Karena dengan kemaluanlah seseorang dapat terjerumus ke dalam dosa besar. Dengannya seseorang dapat mencelakan orang lain, dan dengannya pula seseorang dapat menghancurkan masa depannya, baik di dunia maupun di akhirat. Tetapi dengannya lah seseorang mendapatkan kebaikan apabila menggunakannya sesuai dengan aturan yang berlaku.

Berikut adalah beberapa riwayat yang berkaitan tentang pandangan mata dan menjaga kemaluan yang pernah terjadi pada zaman Rosulullah.

1. Menjaga pandangan adalah termasuk bagian dari hak jalan (orang lain), kisahnya di riwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri.

2. Dengan kita menjaga (menundukkan) pandangan dan menjaga kemaluan akan dijamin oleh Rosulullah dengan Surga, jaminan ini diceritakan oleh Abu Umamah dan dalan shahih Al-Bukhori.

3. Menjaga kemaluan dapat diartikan dengan menghindari perbuatan zina, dan dapat pula berarti menjaga auratnya, seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya.

4. Meninggalkan pandangan mata yang mengarah pada hal-hal yang haram akan diganti oleh Allah dengan manisnya keimanan, hal ini driwiyatkan oleh Ath-thabrani.

Kisah Para Sahabat Rasulluah dalam Menjaga Pandangan

Suatu ketika Ummu Salamah r.a. berkata, “Ketika saya sedang bersama dengan Maimunah dan ada di sisi Rasulullah saw, tiba-tiba masuk ketempat kami Abdullah bin Ummi Maktum, kejadian itu sesudah ayat hijab yang diperintahkan kepada kami. Rasulullah bersabda: "Berhijablah kamu daripadanya". Kami menjawab, "Ya Rasulullah bukankah ia seorang yang buta tidak melihat dan tidak mengenal kepada kami?" Kemudian beliau menjawab, "Apakah kamu juga buta, tidakkah kamu melihat padanya?" Dalam kisah lain disebutkan pula bahwa Rasulullah saw pernah menggerakkan tangannya untuk memalingkan wajah seorang shahabat yang bernama Fudhail, ketika sahabatnya itu ketahuan tengah memandang seorang wanita asing dengan sengaja.

Dari kedua kisah ini, kita mendapati bahwa Rasulullah adalah orang yang sangat menjaga pandangannya. la amat berhati-hati dalam memandang sesuatu, terutama yang berkaitan dengan memandang seseorang yang bukan mahram kita. Semua ini tidak lain menunjukkan ketaatan beliau atas perintah Allah seperti yang tercantum dalam Al Quran, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka.”

Tantangan Kita

Menjaga pandangan bukanlah hal yang mudah dilakukan, apalagi bagi kita yang hidup di zaman modern seperti ini. Lihatlah ke samping kiri, kanan, depan dan belakang kita, lawan jenis yang bukan mahram senantiasa mengelilingi! Tidak hanya di pusat-pusat keramaian, di dalam mobil angkutan umum saja, campur baur dengan lawan jenis pun tak dapat dihindarkan. Bahkan ketika berdiam dirumah saja, menahan pandangan tidak kalah susahnya. Koran, majalah dan televisi menyuguhkan pemandangan yang dapat membuat hati tergelincir karenanya.

Tak heran, ibadah kita sering berantakan. Bacaan Alquran kita kering kerontang. Berdoa pun sulit sekali khusyu apalagi sampai dapat mengeluarkan air mata penyesalan karena tidak mentaati perintah-Nya.

Alhasil andai pun pada awalnya hal ini amat sulit kita lakukan, namun yakinlah bahwa barangsiapa yang bersungguh-sungguh ingin menempuh jalan Allah, maka Allah akan lebih bersungguh-sungguh lagi membimbing jalannya.

Sebagaimana firman-Nya yang tertera dalam Surat An-Nahl ayat 127-128, “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan berbuat kebaikan.

Akhir kata, pandangan yang terjaga dengan baik, insya Allah akan membuat seseorang dapat merasakan manisnya iman dan lezatnya mengingat Allah. Wallahu a’lam bish-shawab.

Maroji’:

Katsir, Ibnu. (tahun penerbitan―diisi lho sat!). Tafsir Ibnu Katsir jilid 6. Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i

Artikel “Indahnya menjaga pandangan” oleh Ust. Abdullah Gymnastiar

0 komentar:

Poskan Komentar

Tafadhol antum / antunna mengkomentari posting di atas. Syukron.