rubrik bahasan utama buletin asy syifa bulan september


Kepompong siap jadi kupu kupu

Persahabatan sejati karena aqidah

Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Sebagai makhluk individu ia memiliki karakter yang berbeda beda, unik, dan hanya ada satu di dunia ini. Dan sebagai makhluk sosial ia membutuhkan interaksi dengan orang lain untuk melangsungkan kehidupannya.

Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) adalah satu dari tiga unsur kekuatan yang menjadi karakteristik masyarakat Islam di zaman Rasulullah, yaitu pertama, kekuatan iman dan aqidah. Kedua, kekuatan ukhuwah dan ikatan hati. Dan ketiga, kekuatan kepemimpinan dan senjata.

Dengan tiga kekuatan ini, Rasulullah saw membangun masyarakat ideal, memperluas Islam, mengangkat tinggi bendera tauhid, dan mengeksiskan umat Islam atas muka dunia kurang dari setengah abad.

Pada abad ke-15 Hijriah ini, kita berusaha memperbaharui kekuatan ukhuwah ini, karena ukhuwah memiliki pengaruh kuat dan aktif dalam proses mengembalikan kejayaan umat Islam.

Kedudukan Ukhuwah dalam Islam

Ukhuwah Islamiyah adalah nikmat Allah swt, anugerah suci, dan pancaran cahaya rabbani yang Allah persembahkan untuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan pilihan. Allah lah yang menciptakannya. Allah berfirman, “…Lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara…” (QS: Ali Imran: 103).

Ukhuwah adalah pemberian Allah. Ia berfirman, “…Walaupun kamu membelanjakan semua (kakayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka… (QS: Al-Anfal: 63)”

Selain nikmat dan pemberian, ukhuwah juga kelembutan, cinta, dan kasih sayang. Rasulullah saw bersabda,“Perumpamaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya dalam kelembutan dan kasih sayang, bagaikan satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang merasa sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya turut merasakannya.” (HR. Imam Muslim).

Ukhuwah juga membangun umat yang kokoh. Ia adalah bangunan maknawi yang mampu menyatukan masyarakat manapun. Ia lebih kuat dari bangunan materi, yang suatu saat bisa saja hancur diterpa badai atau ditelan masa. Sedangkan bangunan ukhuwah Islamiyah akat tetap kokoh. Rasulullah Saw. bersabda,“Mukmin satu sama lainnya bagaikan bangunan yang sebagiannya mengokohkan bagian lainnya.” (HR. Imam Bukhari).

Ukhuwan tak bisa dibeli dengan uang atau sekedar kata-kata. Tapi ia diperoleh dari penyatuan antara jiwa dan jiwa, ikatan hati dan hati. Dan ukhuwah merupakan karakteristik istimewa dari seorang mukmin yang sholeh. Dan ukhuwah Islamiyah ini diikat oleh iman dan taqwa. Iman juga diikat dengan ukhuwah. Allah berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. (QS: Al-Hujurat: 10).”

Artinya, mukmin satu dengan mukmin yang lain itu pasti bersaudara. Dan tidak ada persaudaraan kecuali dengan dasar keimanan. Jika kita melihat ada yang bersaudara bukan karena iman, maka ketahuilah itu adalah persaudaraan dusta. Tidak memiliki akar dan tidak memiliki buah.

Jika Anda melihat iman tanpa persaudaraan, maka itu adalah iman yang tidak sempurna, belum mencapai derajat yang diinginkan, bahkan bisa berakhir dengan permusuhan. Allah berfirman,

“Teman-teman Di antara unsur-unsur pokok dalam akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS: Al-Zukhruf: 67).

Ukhuwah adalah Cinta.

Tingkatan cinta yang paling rendah adalah husnudzon yang menggambarkan bersihnya hati dari perasaan hasad, benci, dengki, dan bersih dari sebab-sebab permusuhan. di antara faktor-faktor yang dapat mempertahankan atau menambah keharmonian hubungan ukhuwah antara sesama Muslim adalah ketulusan hati dan prasangka baik (husnudzhon). Dengan alasan tersebut Allah dan Rasul-Nya melarang kita berburuk sangka (su'udzdzon) dan mengikutinya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya

sebagian prasangka itu adalah dosa" (QS: Al-Hujurat [491: 12).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Hindarilah prasangka (buruk), kerana prasangka (buruk) adalah ucapan yang paling

dusta.”( Diriwayatkan oleh Bukhari dalam an-Nikah no. 5143, al-Adab no. 6064 dan 6066, al-Fara'idh no. 6724)

Sehingga sangat jelas bahwa berprasangka baik terhadap terhadap sesama muslim adalaha hal yang paling mendasar dalam menjalin suatu ukhuwah.

Ada lagi derajat (tingkatan) yang lebih tinggi dari lapang dada dan cinta, yaitu itsar. Itsar adalah mendahulukan kepentingan saudaranya atas kepentingan diri sendiri dalam segala sesuatu yang dicintai. Ia rela lapar demi kenyangnya orang lain. Ia rela haus demi puasnya orang lain. Ia rela berjaga demi tidurnya orang lain. Ia rela bersusah payah demi istirahatnya orang lain. Ia pun rela ditembus peluru dadanya demi selamatnya orang lain.

Islam menginginkan dengan sangat agar cinta dan persaudaraan antara sesama manusia bisa merata di semua bangsa, antara sebagian dengan sebagian yang lain. Islam tidak bisa dipecah-belah dengan perbedaan unsur warna kulit, bahasa, iklim, dan atau batas negara, sehingga tidak ada kesempatan untuk bertikai atau saling dengki, meskipun berbeda-beda dalam harta dan kedudukan. Sehingga, sangat jelas bahwa kita sebagai seorang muslim, kita harus menjalin ikatan persaudaraan atas dasar keimanan kita kepada Allah. Persaudaraan tanpa landasan iman, akan terasa hambar dan hampa.

Buah yang manis dari Ukhuwah Islamiyah

Dari ukhuwah Islamiyah lahir banyak keutamaan, pahala, berpengaruh positif pada masyarakat dalam menyatukan hati, menyamakan kata, dan merapatkan barisan. Orang-orang yang terikat dengan ukhuwah Islamiyah memiliki banyak keutamaan, diantaranya:

1. Mereka merasakan manisnya iman. Sedangkan selain mereka, tidak merasakannya.

Rasulullah Saw. bersabda,

“Ada tiga golongan yang dapat merasakan manisnya iman: orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari mencintai dirinya sendiri, mencintai seseorang karena Allah, dan ia benci kembali pada kekafiran sebagaimana ia benci jika ia dicampakkan ke dalam api neraka.” (HR. Imam Bukhari).

2. Mereka berada di bawah naungan cinta Allah, dilindungi Arasy Al-Rahman.

Di akhirat Allah berfirman,

“Di mana orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, maka hari ini aku akan menaungi mereka dengan naungan yang tidak ada naungan kecuali naunganku.” (HR. Imam Muslim).

Rasulullah Saw. bersabda,

Ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di sebuah desa. Di tengah perjalanan, Allah mengutus malaikat-Nya. Ketika berjumpa, malaikat bertanya, “Mau kemana?” Orang tersebut menjawab, “Saya mau mengunjungi saudara di desa ini.” Malaikat bertanya, “Apakah kau ingin mendapatkan sesuatu keuntungan darinya?” Ia menjawab, “Tidak. Aku mengunjunginya hanya karena aku mencintainya karena Allah.” Malaikat pun berkata, “Sungguh utusan Allah yang diutus padamu memberi kabar untukmu, bahwa Allah telah mencintaimu, sebagaimana kau mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Imam Muslim).

3. Mereka adalah ahli surga di akhirat kelak.

Rasulullah Saw. bersabda,

“Barangsiapa yang mengunjungi orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka malaikat berseru, ‘Berbahagialah kamu, berbahagialah dengan perjalananmu, dan kamu telah mendapatkan salah satu tempat di surga.” (HR. Imam Al-Tirmizi).

Rasulullah Saw. bersabda,

“Sesungguhnya di sekitar arasy Allah ada mimbar-mimbar dari cahaya. Di atasnya ada kaum yang berpakaian cahaya. Wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukanlah para nabi dan bukan juga para syuhada. Dan para nabi dan syuhada cemburu pada mereka karena kedudukan mereka di sisi Allah.” Para sahabat bertanya, “Beritahukanlah sifat mereka wahai Rasulallah. Maka Rasul bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, bersaudara karena Allah, dan saling mengunjungi karena Allah.” (Hadis yang ditakhrij Al-Hafiz Al-Iraqi, ia mengatakan, para perawinya tsiqat).

4. Bersaudara karena Allah adalah amal mulia dan mendekatkan hamba dengan Allah.

Rasul pernah ditanya tentang derajat iman yang paling tinggi, beliau bersabda, “…Hendaklah kamu mencinta dan membenci karena Allah…” Kemudian Rasul ditanya lagi, “Selain itu apa wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, “Hendaklah kamu mencintai orang lain sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri, dan hendaklah kamu membenci bagi orang lain sebagaimana kamu membenci bagi dirimu sendiri.” (HR. Imam Al-Munziri).

5. Diampunkan Dosa.

Rasulullah Saw. bersabda,

“Jika dua orang Muslim bertemu dan kemudian mereka saling berjabat tangan, maka dosa-dosa mereka hilang dari kedua tangan mereka, bagai berjatuhan dari pohon.” (Hadits yang ditakhrij oleh Al-Imam Al-Iraqi, sanadnya dha’if)

Proses terbentuknya ukhuwah islamiyah

Perjuangan Islam tidak akan tegak tanpa adanya ukhuwah islamiyah.
Islam menjadikan persaudaraan dalam islam dan iman sebagai dasar bagi aktifitas perjuangan untuk menegakkan agama Allah di muka bumi. Ukhuwah islamiyah akan melahirkan rasa kesatuan dan menenangkan hati manusia. Banyak persaudaraan lain yang bukan karena islam dan persaudaraan itu tidak akan kuat dan kekal. Persaudaraan Islam yang dijalin oleh Allah SWT merupakan ikatan terkuat yang tiada tandingannya.

Perpecahan dikalangan umat dewasa ini terjadi disebabkan mereka tidak memenuhi persyaratan ukhuwah, yaitu kurangnya mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah yang bersungguh-sungguh. Allah SWT berfirman, ketaatan beribadah dan ketakwaan sebagai solusi dari perpecahan umat. Lihat Q.S. Al Hujurat (49) : 10. orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. Persaudaran yang dilandaskan pada iman akan mendapat nikmat dari Allah yang tiada tara.


Oleh karena itu untuk mencapai nikmatnya ukhuwah, perlu kita ketahui beberapa proses terbentuknya ukhuwah islamiyah antara lain :


1. Melaksanakan proses ta’aruf (saling mengenal).

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” QS: Al Hujuraat (49):13

Adanya suatu interaksi antar manusia dapat menjadikanya lebih mengenal karakter individu. Perkenalan pertama tentunya kepada penampilan fisik (Jasadiyyan), seperti tubuh, wajah, gaya pakaian, gaya bicara, tingkah laku, pekerjaan, pendidikan, dsb. Selanjutnya interaksi berlanjut ke pengenalan pemikiran (Fikriyyan). Hal ini dilakukan dengan dialog, pandangan terhadap suatu masalah, kecenderungan berpikir, tokoh idola yang dikagumi/diikuti,dll. Proses berlanjut pada pengenalan kejiwaan (Nafsiyyan) yang ditekankan kepada upaya memahami kejiwaan, karakter, emosi, dan tingkah laku. Setiap manusia tentunya punya keunikan dan kekhasan sendiri yang memepengaruhi kejiwaannya. Proses ukuhuwah islamiyah akan terganggu apabila tidak mengenal karakter kejiwaan ini. Oleh karena itu Allah telah memerintahkan kita untuk saling mengenal. Karena dengan mengenal ukhuwah dapat terbentuk dan dapat memperluas wawasan bahkan bias menjadi ladang yang luas untuk menyemai bibit cinta dan kasih sayang.

2. Melaksanakan proses tafahum (saling memahami)

Saling memahami adalah kunci ukhuwah islamiyah. Sara saling memahami muncul dari hati seseorang yang benar benar tulus. Tanpa perasaan saling memahami maka ukhuwah tidak akan berjalan. Proses ta’aruf/pengenalan dapat diprogram namun proses tafahum hanya dapat dilakukan secara alami bersamaan degna berjalannya ukhuwah. Dengan saling memahami maka setiap individu akan mudah mengatahui kekuatan dan kelemahannya serta dapat menerima perbedaan.
Ukhuwah tidak dapat berjalan apabila seseorang selalu ingin dipahami dan tidak berusaha memahami orang lain. Rasa saling memahami dilakukan degan cara penyatuan hati, pikiran dan amal.Allah-lah yang menyatukan hati manusia.

“dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara…” (QS: Ali-Imron : 3)

3. Melakukan At-Ta’aawun (saling tolong menolong).

“dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” (Q.S. Al Maaidah :2.)

Bila saling memahami sudah lahir maka timbullah saling tolong-menolong. Pertolongan yang dapat kita berikan pada saudara kita sangat luas bentuk dan waktunya. Pertolongan dapat dilakukan dengan hati (saling mendo’akan-wujud yang paling ringan dan lemah), pemikiran (berdiskusi dan saling menasehati), dan amal/perbuatan (saling Bantu membantu).

Saling menolong dalan kebaikan adalah kebahagiaan tersendiri. Manusia adalah makhluk social yang butuh berinteraksi dan butuh pertolongan orang lain. Kebersamaan akan terasa lebih indah bila kita dapat saling tolong-menolong dengan saudara kita.

4. Itsar (Mendahulukan orang lain daripada diri sendiri)

Itsar adalah tingkatan tertinggi dalam ukhuwah yang dilandaskan iman dan kecintaan kepada saudara muslim karena Allah. Banyak kisah yang menunjukkan sifat itsar. Suatu kisah yang berasal dari Al-Hudzaifah Al-‘Adawiy, ketika perang Yarmuk ia pergi mencari anak pamannya dengan membawa bekal air yang sedkikit. Ketika Hudzaifah hendak memberinya minum ada seorang lelaki yang merintih, lalu putra pamannya itu mengisaratkan untuk mendekati laki-laki itu yang ternyata dia adalah Hisyam bin Al-‘Ash. Ketika hendak memunim air yang dibawa oleh Hudzaifah, terdengar rintihan orang lain, lalu Hisyam bin Al-‘Ash mengisaratkan untuk mendekati orang tersebut. Ketika Hudzaifah menghampirinya, orang tersebut telah meninggal. Lalu ia kembali pada putra pamannya, ternyata juga sudah meninggal. Lalu ia menghampiri Hisyam yang ternyata juga sudah meninggal.

“Tidaklah beriman salah seorasng diantara kamu hingga dia mencintai sesuatu untuk saudranya sebagaimana ia mencintainya untuk dirinya sendiri” (HR. Bukhari-Muslim).

Betapa indah ukhuwah islamiyah yang diajarkan Allah dan rosul-Nya. Bila umat islam dapat menerapkan dalam kehidupan sehari hari, tentunya terasa lebih manis rasa iman di hati dan terasa indah hidup dalam kebersamaan. Mari kita mulai dari diri kita, keluarga, masyarakat dekat untuk menjalin persaudaraan islam ini.


0 komentar:

Poskan Komentar

Tafadhol antum / antunna mengkomentari posting di atas. Syukron.