AL-QUR’AN

Mendengar kata Al-Qur’an, mungkin yang terbenak dalam kita ialah tulisan Arab seperti rumput yang susah dibaca sehingga membuat kita malas membacanya. Maka jadilah kita orang-orang yang mengaku muslim namun jarang menyentuh Al-Qur’an seumur hidup kita.


Zaman berkembang dengan cepatnya membuat Al-Qur’an semakin dilupakan. Ia hanya dijadikan pajangan yang berdebu dalam mushalla rumah ataupun kamar kos seorang mahasiswa. Ia tak lagi dihormati. Ia disejajarkan dengan komik, majalah remaja, buku-buku fiksi dan sains. Bahkan mungkin pula tertimpa oleh buku pelajaran yang bejibun jumlahnya yang sering kita baca. Apakah kita menyalahkan bahwa zamanlah penyebabnya sehingga kita menjadi lupa diri?


Zaman Rasulullah SAW dulu, Al-Qur’an belum dibukukan. Para sahabat mendengarkan wahyu Allah melalui lisan Nabi Muhammad. Segera setelah itu dihapalkan, dipahami, dan diamalkan langsung oleh mereka. Hapalan para sahabat sangatlah kuat. Ditambah lagi sastra Al-Qur’an yang tidak tertandingi namun mudah dihapalkan sehingga anak-anak zaman Imam Syafi’i sampai sekarangpun dapat menghapalkannya.


Ingatlah bahwa Al-Qur’an di setiap zaman selalu dianggap rendah bagi para penentangnya. Zaman Rasulullah dahulu, Al-Qur’an dianggap sebuah dongeng belaka tentang peristiwa Nabi Ibrahim yang tidak mempan dibakar api. Sedangkan peristiwa yang pada saat itu terjadi, seperti Isra’ Mi’raj, dianggap sebagai kebohongan belaka dan Nabi dikatakan gila. Apalagi cerita iptek Al-Qur’an. Teman, bukalah Ar-Rahman ayat 37 mengenai iptek yang singkat, yaitu fenomena red rose di luar angkasa. Para ulama tafsir berhati-hati dalam menafsir ayat ini, namun adapula yang mengambil jalan tengah, yaitu tidak mengkomentari apa-apa ayat mengenai iptek tersebut. Namun, mereka mempunyai iman yang kuat. Mereka mempasrahkan diri mereka untuk Allah dan Rasul-Nya. Mereka yakin ucapan Rasul tidaklah dusta, melainkan suatu kebenaran wahyu Sang Pencipta. Kini, kita mengimani iptek Al-Qur’an karena sesuai dengan penemuan-penemuan yang ada. Sedangkan peristiwa zaman dulu, seperti Isra’ Mi’raj dan Nabi Ibrahim, yang terjadi malah sebaliknya, kita hanya mengimani tanpa dibaca sirahnya. Kalau begini, bagaimanakah mengenai babi yang tetap diharamkan, padahal sudah ada teknologi canggih untuk mengolah daging babi dengan baik, sedangkan sapi yang kini berpenyakit madcow tentu lebih berbahaya namun tidak diharamkan, goyahkah akan iman kita?


Semua itu adalah rahasia Allah. Pada saat ini mungkin belum terkuak seutuhnya penyebab diharamkan babi, darah, dan lainnya yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Tetapi, percayalah, Allah akan memperlihatkan hikmah-Nya seiring dengan berjalannya zaman. Tidak perlu cendekiawan muslim untuk mengubah ayat-ayat Allah. Cukuplah zaman sendiri yang akan membuktikan kebenaran Al-Qur’an, kata-kata murni dari Allah. Yang dapat kita lakukan pada saat ini hanyalah mengimani semuanya, seperti para sahabat dulu yang tetap tegar mengimani tentang cerita iptek Al-Qur’an.


Zaman tidaklah bersalah. Al-Qur’an memang sudah dirancang oleh Allah untuk dapat dipakai semua zaman. Ia digunakan manusia sebagai pedoman hidup. Ia dibaca karena manusialah yang membutuhkannya. Ia dipahami dan diamalkan karena yakin manusia tidak akan rugi karenanya, bahkan ia mendapatkan kebaikan dari Allah. Ia dihapalkan karena ingin menunjukkan rasa cintanya kepada Allah. Mari teman-teman kita cintai Allah dan Rasul-Nya dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pendamping hidup kita. Kuatkanlah iman kita terhadap arus zaman yang bergelombang ini. Mudah-mudahan kita termasuk golongan hamba-Nya yang sholeh. Amin.

download pdf file

0 komentar:

Poskan Komentar

Tafadhol antum / antunna mengkomentari posting di atas. Syukron.