Makna Ikhlas

Ikhlas artinya memurnikan tujuan bertaqarrub kepada Allah dari hal-hal yang mengotorinya. Bisa juga diartikan bahwa ikhlas itu adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam bentuk ketaatan. Sebenarnya, mengapa kita perlu berbuat ikhlas dalam kehidupan kita? Sebab, ikhlas merupakan syarat diterimanya amal shaleh yag dilaksanakan sesuai dengan sunnah Rasululah SAW. Allah SWT berfirman di Al-Bayyinah ayat 5 yang artinya insya Allah sebagai berikut:

“Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan dien (agama) kepadaNya, lagi bersikap lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Diriwayatkan Abu Sa'id Al-Khudriy ra bahwa pada waktu haji wada', Rasulullah bersabda,”Semoga Allah mencerahkan orang yang mendengar kata-kataku lalu menjaganya. Betapa banyak orang yang membawa pemahaman, tetapi ia sendiri tidak paham. Tiga hal seorang mukmin tidak akan dengki terhadapnya; mengikhlaskan amal kepada Allah, memberikan loyalitas kepada para pemimpin kaum muslimin, dan selalu bergabung dengan jama'ah mereka”

Maksud dari hadits tersebut ialah ketiga hal tersebut kesemuanya dapat memperbaiki hati kita. Barangsiapa yang dapat menjadikan ketiganya sebagai akhlak, pasti hatinya bersih dari khianat, kerusakan, dan kejahatan.Seseorang yang shalih akan berusaha berbuat ikhlas dalam kehidupannya sebab dengan ikhlas-lah kita akan selamat dari bahaya godaan syaithan, sesuai dengan firman-Nya dalam Shad ayat 83 yang artinya kurang lebih sebagai berikut:

“Kecuali hamba-hamba-Mu yang selalu ikhlas.” (QS. Shad: 83)

Dalam pandangan umum kaum muslimin sering pula ditemukan hal yang berlawanan dengan makna ikhlas sendiri, contohnya seperti hukum waris yang kadarnya telah ditetapkan masing-masing oleh Allah. Namun, bagian orang yang mendapat jatah lebih banyak mengatakan bahwa dia ikhlas agar harta tersebut dibagi rata dengan saudara lainnya yang mendapatkan jatah lebih sedikit menurut hukum waris. Apapun alasannya, ungkapan tersebut mengandung tuduhan bahwa Allah hakim yang tidak adil. Secara tidak langsung ia telah mempertahankan hukum adat dan menolak ketuhanan Allah. Dengan demikian makna ikhlas yang diungkapkannya tanpa disadari telah menghapuskan akidah tauhid dan menanamkan kemusyrikan dalam dirinya dan masyarakat sekitarnya. Masalah lainnya lagi yaitu fenomena keliru masyarakat muslimin mengenai ikhlas terbagi 3 tingkat.

Tingkat pertama yaitu tingkat ikhlas orang awam sebab ia beribadah dengan mengharapkan surga-Nya. Dia bagaikan kaum buruh.

Tingkat kedua yaitu ikhlasnya orang khusus, yaitu orang beribadah kepada Allah dan sangat takut dengan neraka.

Tingkat ketiga yaitu khususnya khusus, yaitu beribadah tanpa mengharapkan surga dan tidak pula takut neraka, tetapi ia beribadah hanya semata-mata ingin bertemu dengan Allah dan rindu kepada-Nya.

Teman-teman, marilah kita telaah satu-satu tingkatan tersebut. Tingkat pertama tidak sesuai dengan surah Ali Imran ayat 133. Mencari surga adalah perintah Allah. Orang yang tidak mengharapkan surga berarti dia tidak melaksanakan perintah Allah, maka kita harus memohon kepada-Nya surga sebagaimana Dia perintahkan.

Pada tingkat kedua, kita semua diperintah untuk takut neraka. Tidak ada yang tenang menghadapi siksa neraka selain orang yang meremehkan keperkasaan Allah. Sesungguhnya orang yang takut neraka ialah orang yang telah melaksanakan perintah-Nya, di samping itu dia mengaku sebagai hamba yang sangat lemah meghadapi siksaan. Itulah penghambaan hakiki yang telah diperintahkan kepada semua manusia. Bahkan Rasulullah tetap memperingatkan kepada pengikutnya yang jelas-jelas setia dan taat kepada beliau, yaitu kaum muhajirin dan anshar, tentang siksa neraka.

Mengenai tingkat ketiga, bila dia tidak berharap masuk surga bagaimana mungkin dia dapat bertemu dengan yang dirindukannya. Bila ia benar-benar mencintai Allah pasti ia akan menempuh jalan menuju-Nya, mengharap akan surga-Nya, dan takut akan neraka-Nya. Dan jalan tersebut telah jelas di dalam Al-Quran yang sudah pasti benarnya, maka janganlah mencari jalan lain atau membuat jalan baru menurut kehendak sendiri. Dengan demikian, semua tingkatan tersebut tidaklah benar. Yang benar adalah kita dalam beribadah kepada Allah ta'ala harus berlandaskan pada tiga pilar sentral, yaitu hubb (cinta) kepada Allah, khauf (takut) akan siksa-Nya, dan raja' (harapan) akan surga-Nya.

Bagaimana agar kita dapat bersikap ikhlas dalam kehidupan sehari-hari? Resep untuk ikhlas yaitu memupus kesenangan-kesenangan hawa nafsu, ketamakan terhadap dunia dan mengusahakan agar hati selalu terfokus kepada akhirat. Ini adalah kunci dari sikap ikhlas. Teman-teman tentu tidak mengetahui bagaimanakah cara-cara lebih konkritnya mengenai resep ikhlas di atas. Memang, apabila dijabarkan maka sangatlah luas. Cukuplah bagi kita untuk mencicil sedikit demi sedikit dari makna ikhlas, yaitu dapat dengan cara menyempatkan waktu mengikuti pengajian-pengajian yang ada. Di FK maupun lingkungan sekitar kita, tentu ada pengajian mengenai akidah wal akhlaq (akidah akhlak) yang dapat mempertebal iman dan untuk lebih memantapkan diri untuk bersikap ikhlas dalam kehidupan sehari-hari. Tidak perlu dipelajari semua dalam sehari ataupun jangka waktu tertentu saja. Namun, pelajarilah secara kontinuitas, sebab ini yang lebih diutamakan. Tetaplah kita akan selalu haus akan ilmu agama Islam.Mari teman-teman, kita berusaha beramal dengan ikhlas yang disertai dengan keinginan belajar Islam lebih dekat agar kita selalu dibimbing-Nya menuju jalan yang hak. Wallahu a'lam.


download pdf file

0 komentar:

Poskan Komentar

Tafadhol antum / antunna mengkomentari posting di atas. Syukron.