lembutnya pribadimu


Lembutnya Pribadimu

Pribadi nabi memang sangat indah. Ia tak berbuat zhalim, dan mengambil hak orang secara zhalim. Pribadinya lembut dan penuh kasih sayang

Sekilas pribadi nabi صلى الله عليه وسلم ini dikisahkan oleh Aisyah RA “Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak pernah sama sekali memukul seorang pun dengan tangannya kecuali dalam rangka berjihad di jalan Allah. Beliau tidak pernah memukul pelayan dan kaum wanita. Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak pernah membalas suatu aniaya yang ditimpakan orang atas dirinya. Selama orang ini tidak melanggar kehormatan Allah,” tuturnya. Hadist ini diriwayatkan Ahmad. Bengiskah pribadi Nabi صلى الله عليه وسلم ? tidak, bahkan beliau sangat jauh dari sikap itu.

!
Mereka tidak tahu

Kesabaran nabi صلى الله عليه وسلم dalam berdakwah sangat patut dijadikan teladan. Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, “Apakah ada hari yang engkau rasakan lebih berat daripada hari peperangan Uhud?” beliau menjawab, “aku telah mengalami berbagai peristiwa dari kaummu, yang paling berat kurasakan adalah pada hari ‘Aqabah, ketika aku menawarkan dakwah ini kepada Abdu Yalail bin Abdi Kalaal namun dia tidak merespon keinginanku. Aku pun kembali dengan wajah kecewa. Aku terus berjalan dan baru tersadar ketika telah sampai di qornuts Tsa’alib (sebuah gunung di kota Makkah). Aku tengadahkan wajahku, kulihat segumpal awan tengah memayungiku. Aku perhatikan dengan seksama, ternyata malaikat Jibril ada di sana. Lalu ia menyeruku, ‘sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka terhadapmu. Dan aku telah mengutus malaikat pengawal gunung kepadamu supaya kamu perintahkan ia sesuai kehendakmu.’ Kemudian malaikat pengawal gunung itu member salam kepadaku lalu berkata, ‘wahai Muhammad, sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka terhadapmu, dan aku adalah melaikat pengawal gunung, Allah سبحانه وتعالى telah mengutusku kepadamu untuk melaksanakan apa yang kamu peritahkan kepadaku. Sekarang, apakah yang kamu kehendaki? Jika kamu menghendaki agar aku menimpakan kedua gunung ini atas mereka, niscaya aku lakukan!’ Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, ‘tidak, justru aku berharap agar Allah سبحانه وتعالى mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang menyembah Allah سبحانه وتعالى semata dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya’.” (Muttafaq ‘alaih).

Alangkah indahnya perangai Nabi صلى الله عليه وسلم. Sudahkah kita mencontohnya?

Jadi jalan hidayah

Pada suatu hari ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم tengah melayat satu jenazah, datanglah seorang yahudi bernama Zaid bin Su’nah menemui beliau untuk menuntut utangnya. Yahudi iu menarik ujung gamis dan selendang beliau sambil memandang dengan wajah yang bengis, dia berkata, “Ya Muhammad, lunaskanlah hutangmu padaku1” dengan nada yang kasar. Melihat hal itu, Umar رضي الله عنه pun marah, ia menoleh kea rah Zaid si yahudi sambil mendelikkan matanya seraya berkata, “hai, musuh Allah! Apakah engkau berani berkata dan bernuat tidak senonoh terhadap Rasulullah صلى الله عليه وسلم di hadapanku? Demi Dzat yang telah mengutusnya dengan membawa Al-Haq, seandainya bukan karena menghindari teguran beliau, niscaya sudah kutebas engkau dengan pedangku!”.

Sementara Rasulullah صلى الله عليه وسلم memperhatikan reaksi Umar رضي الله عنه dengan tenang. Beliau صلى الله عليه وسلم berkata, “Wahai Umar, saya dan dia lebih membutuhkan perkara yang lain (nasihat). Yaitu engkau anjurkan kepadaku untuk menunaikan utangnya dengan baik, dan engkau perintahkan dia untuk menuntut utangnya dengan cara yang baik pula. Wahai Umar, bawalah dia dan tunaikanlah haknya serta tambahlah dengan dua puluh sha’ kurma.”

Melihat Umar رضي الله عنه menambah dua puluh sha’ kurma, Zaid si yahudi itu bertanya, “Ya Umar, tabahan apakah ini?” Umar رضي الله عنه menjawab, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkanku untuk menambahkannya sebagai ganti kemarahanmu!” Si yahudi itu berkata, “Ya Umar, apakah engkau mengenalku?” “Tidak, lalu siapakah anda?” Umar رضي الله عنه balas bertanya. “Aku adalah Zaid bin Su’nah” jawabnya. “Apakah Zaid si pendeta itu?” Tanya Umar lagi. “benar!” sahutnya. Umar lantas berkata, “apakah yang mendorongmu berbicara dan bertindak seperti itu terhadap Rasulullah صلى الله عليه وسلم ?” Zaid menjawab, “Ya Umar, tidak satupun tanda-tanda kenabian kecuali aku pasti mengenalinya melalui wajah beliau setiap kali aku memandangnya. Tinggal dua tanda yang belu aku buktikan, yaitu : apakah kesabarannya dapat memupus tindakan jahil, dan apakah tindakan jahil yang ditujukan kepadanya justru semakin menambah kemurahan hatinya? Dan sekarang aku telah membuktikannya. Aku bersaksi kepadamu, wahai Umar, bahwa aku rela Allah سبحانه وتعالى sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai nabiku. Dan aku bersaksi kepadamu bahwa aku telah menyedekahkan sebagian hartaku untuk umat Muhammad.” Zaid pun akhirnya bersyahadat masuk Islam. Duhai betapa indahnya kelembutan pribadi Nabi صلى الله عليه وسلم . Sudahkah kita mencontoh dan berhias dengan kepribadiannya???

Taken from elfata edisi 5 volume 8 tahun 2008

0 komentar:

Poskan Komentar

Tafadhol antum / antunna mengkomentari posting di atas. Syukron.