lembar tausyiah bulan maret

Ingatlah Allah niscaya Allah mengingatmu

Galau, yah sepertinya kata itu sering didengar, yang ditujukan untuk mereka yang wajahnya murung, suka menyendiri dan tidak bersemangat menjalani perkuliahan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, salah satu definisi galau yaitu kacau tidak keruan (pikiran). Kekacauan di dalam pikirannya membuat wajah dan tingkah lakunya juga kacau. Dan untuk para mahasiswa, kekacauan dalam pikirannya tidak jauh dari 3 masalah, yang pertama masalah akademis, yang kedua masalah kepribadian dan yang ketiga masalah lawan jenis. Sudah hal yang wajar setiap perjalanan hidup manusia pasti ada masalah yang dihadapinya, dan sudah hal yang wajar pula seorang mahasiswa menemui ketiga masalah tersebut. Dan bukanlah mahasiswa yang baik ketika mereka tidak ingin menyelesaikan ketiga masalah tersebut.

Salah satu strategi untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah memperbanyak dzikir kepada Allah. Apa itu dzikir, apa manfaatnya, bagaimana cara mengamalkannya dengan baik dan benar. Nah, pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menjadi tema pembahasan LT pada edisi kali ini.

Dzikir secara terminologi berasal dari kata dzakara, yang artinya memelihara dalam ingatan. Imam Nawawi dalam kitab Al Adzkar menjelaskan bahwa bahwa dzikir itu dapat dilakukan dengan hati atau dengan lisan. Akan tetapi lebih afdhal bila dilakukan dengan keduanya. Namun, bila ingin memilih diantara kedua hal itu, maka lebih afdhal bila dilakukan dengan hati. Jika dilakukan dengan lisan juga diperlukan hadirnya hati. Maka sudah sepantasnya bagi setiap orang yang melakukan dzikir untuk menyadari bahwa itulah tujuannya sehingga timbul keinginan untuk meraih hasilnya dengan mentadabbur ucapan-ucapan dzikirnya serta memikirkan makna-maknanya. Karena tadabbur atau tafakkur (merenung) dalam berdzikir merupakan keharusan sebagaimana ketika ia membaca Al-Qur-ân karena kedua-duanya memiliki maksud dan tujuan yang sama.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya juga menjelaskan bahwa dzikir bisa berarti orang yang paham dan memiliki pengertian atau pengetahuan yang dalam disebut Ahludz-Dzikri sebagaimana ayat “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu (Muhammad), kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan (Ahludz-Dzikri) jika kalian tidak mengetahui”. An-Nahl (16) : 43. Dzikir juga bisa berarti “Pengetahuan” atau “Ilmu”, itulah sebabnya Al-Qur-’ân disebut Adz-Dzikr karena ia mengandung ilmu pengetahuan yang sempurna yang mencakup kehidupan dunia dan akhirat sebagaimana ayat,“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur-‘ân), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. Al-Hijr (15) : 9

Dzikir adalah ibadah yang mudah dan penuh faedah, Ibnul qoyiim al jauziyah rahimahumullah menyebutkan di dalam kitab Wabilush Shoyyib, setidaknya ada 51 keutamaan dzikir, diantaranya mengusir setan, mendatangkan ridho Allah, menghilangkan gelisah dan hati yang gundah gulana, hati menjadi gembira dan lapang, menguatkan hati dan badan, menerangi hati dan wajah menjadi bersinar, mendatangkan rizki, orang yang berdzikir akan merasakan manisnya iman dan keceriaan, hati akan semakin hidup, hati dan ruh semakin kuat, menghapus dosa, menyelematkan seseorang dari adzab neraka, memberikan rasa aman bagi seorang hamba dari kerugian di hari kiamat, cahaya bagi pemiliknya di dunia, kubur, dan hari berbangkit, inti dari bersyukur, obat hati sedangkan lalai dari dzikir adalah penyakit hati, menjadikan kesulitan itu menjadi mudah. Begitulah besar faedah yang bisa didapat dari berdzikir, dan sebuah kerugian yang besar ketika tidak mengamalkan ibadah dzikir dalam kehidupan sehari-hari kita.

Dzikir membuat hidup kita menjadi tenang, arti tenang seperti yang dijelaskan dalam Al quran, “agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput darimu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri” (Al Hadid : 57). Jika kita terbiasa berdzikir kepada Allah dengan menyebut Asmanya, harapannya dalam setiap tindak tanduk kita kita ingat kepada Allah. Mengingat Allah membuat kita tidak putus asa ketika kita harus terkena inhal, refrat dan remed mata kuliah padahal kita sudah belajar dengan sungguh-sungguh. Mengingat Allah membuat kita berpikir bahwa Allah hendak memperingatkan kita bahwa sebaik apapun usaha kita di dunia ini, Allahlah yang memberi rezeki kepada kita, sehingga kita tidak menyombongkan diri saat banyak prestasi kita raih. Mengingatlah Allah membuat kita tidak seperti Qarun, dalam ayat “Dia Qarun berkata,”Sesungguhnya aku diberi harta itu, semata-mata karena ilmu yang ada padaku. “ Tidaklah dia tahu bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka” (Al Qasas : 28). Dia menganggap bahwa prestasi yang diraihnya semata-mata karena kecerdasan dan kehebatan dirinya saja, padahal Allahlah yang memberikan kecerdasan dan kehebatan pada diri qarun. Dan bagi Allah mudah saja menghapus kecerdasan dan kehebatan qarun. Berdzikir kepada Allah juga mengingatkan kita untuk berdoa agar dihindarkan sifat malas dan lemah, seperti yang doa contohkan nabi. Bisa jadi, sifat malas, lemah, dan sifat yang buruk dalam menjalani kehidupan akademis kita karena azab Allah yang diberikan kepada kita atas dosa-dosa yang kita perbuat.

Mengingat Allah juga mengobati hati kita yang sedang galau karena lawan jenis. Sudah suatu hal yang wajar, masa-masa muda seperti kita-kita ini pasti tergoda atau tertarik dengan lawan jenis. Ketika kita jarang menyebut nama Allah dan sedkit mengingat Allah maka bisa jadi kita malah tergoda untuk bermaksiat kepada Allah. Dan membuat kita malah selalu teringat kepada wajah lawan jenis yang kita sukai. Mengingat Allah membuat kita sadar, bahwa kelak Allah akan memberikan waktu bagi kita untuk menumpahkan segala nafsu kita kepada lawan jenis, yaitu saat menikah. Mengingat Allah juga membuat hati kita teguh kepada apa yang kita yakini dan tidak tergoda bemaksiat kepada Allah meskipun teman-teman kita bermaksiat kepada Allah. “Dan janganlah kamu mendekati zina, itu sungguh suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al Israa : 32)

Memperbanyak dzikir kepada Allah juga bisa membentuk jati diri dan kepribadian kita. Ketika memperbanyak mengingat Allah, kita yakin bahwa kelak ada suatu masa bahwa kita akan bertemu dengan Allah dan Allah akan mempertanyakan setiap amal perbuatan yang kita lakukan di dunia. Hal itu membentuk kepribadian kita, untuk selalu menjadi pribadi yang positif, baik tutur katanya, perbuatannya dan sikapnya. Keyakinan bahwa Allah juga yang mengatur kehidupan kita, membuat kita juga selalu berpikir positif atas apa yang terjadi pada kita. Segala masalah yang menimpa kita pasti bisa kita atasi, seperti dalam ayat “sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan maka apabila engkau telah selesai dari sesuatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan lain dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap” (Al Insyirah : 6-8). Hal itu membuat kita menjadi prbadi yang penuh kepercayaan diri bahwa Allah selalu menolong hambanya apapun masalah yang akan dihadapinya. “Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapatkan pahala dari kebaikan yang dikerjakannya dan dia mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya.” (Al Baqarah : 286)

Maka biasakanlah bibir-bibir kita basah untuk berdzikir dalam kehidupanmu, disaat engkau dalam perjalanan ke kampus, di saat engkau pulang ke rumahmu, dikala menunggu dosen mengajar, dikala waktu sisa ujian, dikala menunggu giliran praktikum, dikala diammu dan dikala senggangmu. Berdzikirlah sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad SAW, ada dzikir yang disebutkan jumlah dan waktunya, misal “Barangsiapa yang membacanya (surat Al Ikhlas, Al falaq, An Naas) tiga kali ketika pagi dan ketika sore maka dia akan dicukupi dari segala sesuatu.” (Shahih At-Tirmidziy).. Ada pula yang tidak disebutkan jumlah dan tempat, misal ” Perbanyaklah membaca syahadat laa ilaaha illallah sebelum kalian terhalang darinya” (HR. Abu Ya’laa di Shahihkan oleh Al-Albani). Ada pula yang disebutkan jumlah dan tidak disebutkan waktunya, misal Sesungguhnya aku (Nabi) bertaubat kepada Allah Aza Wajallah dan mohon ampun kepadaNya seratus kali dalam sehari. “(HR.Ahmad di Shahhihkan oleh Albani). Ada pula yang tidak disebutkan jumlahnya dan disebutkan waktunya, misalnya “Barangsiapa membacanya (ayat kursi) di pagi hari maka akan dilindungi dari (gangguan) jin sampai sore, dan barangsiapa yang membacanya (ayat kursi) di sore hari maka akan dilindungi dari gangguan mereka (jin)” (HR. Al-Hakim dishahihkan Syaikh Albani).

Permasalahan dalam dzikir

Di masyarakat, ditemukan orang yang berdzikir menggunakan tasbih yang biasa berjumlah 30 biji atau 100 biji. Syaikh Utsaimin dalam menjelaskan meskipun biji tasbih itu bukan bid’ah tetapi menggunakan ruas tangan kanan itu lebih afdhol. Karena tangan yang digunakan untuk berdzikir akan bersaksi di akhirat kelak,”

Di masyarakat, juga ditemukan ada perkumpulan majelis dzikir atau yang biasa disebut dzikir berjamaah, ada satu pemimpin yang membacakan suatu dzikir lalu jamaah lain mengikuti ucapan dzikirnya. Hal ini juga tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Nabi tidak pernah menyuruh sahabatnya berkumpul, lalu menyuruh mereka untuk mengikuti setiap dzikir yang diucapkan oleh Nabi. Nabi menyuruh kita berdzikir secara individu per individu. Meskipun dzikir berjamaah dipandang ada segi manfaat untuk mengumpulkan umat Islam, mengingatkan umat islam untuk berdzikir kepada Allah tetapi berusahalah untuk meninggalkan setiap ibadah yang tidak dituntukan Nabi dan maksimalkan ibadah yang telah dituntukan Nabi.

Di masyarakat pula, ditemukan ada buku yang menyuruh dzikir-dzikir tertentu dalam jumlah tertentu dan pada waktu tertentu dengan faedah tertentu tanpa ada hadist yang shahih. Dalam buku itu diajarkan membaca dzikir sampai jumlah ribuan. Kesalahan dari buku tersebut adalah menyebutkan jumlah bilangan dzikir tanpa dalil yang shahih dan ada faedah yang tidak berdasar apda dalil yang shahih pula. Meskipun di buku-buku itu dicantumkan faedah yang luar biasa hebatnya janganlah kita tergoda untuk mengamalkannya, amalkan saja apa yang di diamalkan oleh Nabi dan percayalah bahwa apa yang diamalkan Nabi itu sudah sempurna dan tidak perlu lagi kita menambah-nambahkannya.

Terkadang kita menemukan orang-orang nonmuslin (baca kafir) juga fasih dalam mengucapkan dzikir kepada Allah. Saat mereka berjanji mereka bilang,”insyaallah lho”. Saat mereka mendapat kebahagiaan, mereka bilang,”iya, Alhamdulillah banget ya.” Atau saat mereka kaget, mereka bilang,’masyaallah.” Ucapan-ucapan mereka tidak berpengaruh terhadap mereka, bahkan jika setiap hari mereka berdzikir. Memang bibir-bibir mereka fasih mengucapakan asma-asma Allah tetapi hati mereka tidak meyakini keberadaan Allah. Dalam aqidah, syarat diterimanya amal yang pertama adalah Islam dan Islam itu sendiri artinya seperti hadist Nabi,“ Islam dibangun atas lima dasar: Yaitu persaksian bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah, bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadhan” (HR. Muslim ). Jika mengingkari atau tidak melakukan salah satu saja maka gugurlah keislaman seseorang. Amal sholeh mereka sia-sia dan rugilah mereka, mereka menganggap beramal sholeh tetapi tidak ada balasan bagi mereka kecuali neraka, “tidaklah pantas orang-orang musyrik memakmurkan masjid Allah, padahal mereka sendiri kafir, mereka itu sia-sia amalnya dan mereka kekal di dalam neraka.” (At Taubah : 9)

Semoga tulisan ini menambah tsaqofah atau pemahaman kita tentang dzikir dan membuat kita bersemangat untuk memperbanyak menyebut asma-asma Allah. Dan semoga bibir kita bukan menjadi beban berat saat diakhirat kelak karena jarang menyebut asma Allah. Tidak ada suatu waktu pun yang terluputkan dari anak adam untuk berdzikir kepada Allah kecuali ia akan menyesali waktu tersebut pada hari kiamat” (ShahihulJami’ : 5720). Semoga juga dzikir-dzikir yang kita lakukan bisa menghapus dosa-dosa yang berasal dari mulut-mulut kita, entah kata-kata kotor saat kita marah, ghibah atau membicarakan orang lain tanpa ada manfaat, atau cacian-cacian yang tidak pantas kita ucapkan. “Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapusnya” (HR Tirmidzi, Hasan).

wallahu’alam bi shawab

Mereka telah disibukkan oleh dunia, kuliah dan organisasinya, padahal dzikir itu sangat ringan di lidah namun memiliki keutamaan yang luar biasa



download versi pdf
lembar tausyiah maret

0 komentar:

Poskan Komentar

Tafadhol antum / antunna mengkomentari posting di atas. Syukron.