Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

MUHASABAH Buletin Asy-Syifa edisi Juni 2010

Cerminan Prioritas
Ada sebuah jembatan yang sangat besar dan luas. Arsitekturnya megah, dirancang dengan gaya seni yang tinggi, dan kemegahannya semakin memukau karena didukung dengan pemandangan alam disekitarnya yang mempesona. Jembatan ini adalah jalan menuju sebuah negeri yang konon keindahannya tak pernah terbetik dalam hati dan belum pernah terdengar oleh telinga siapapun. Dua orang pengembara bersepakat menyeberanginya. Lamanya perjalanan membuat keduanya kelelahan hingga mereka memutuskan untuk beristirahat. Di tengah jeda waktu menghilangkan kepenatan, pengembara pertama tersihir dengan keindahan jembatan tersebut. Ia memutuskan untuk menghentikan perjalanan dan akan membangun rumah di atas jembatan. Ketika menyampaikan niatnya kepada teman perjalanannya, sontak ia dibentak “Apa kau sudah kehilangan akal? Bagaimana mungkin kau akan membangun rumah disini? Jikapun bisa, tentu rumahmu akan segera roboh karena jembatan ini tidak akan kuat menopangnya!”

KATA MUTIARA Buletin Asy-Syifa edisi Juni 2010

1. Ali bin Abu Thalib berkata : “Dunia berjalan meninggalkan (manusia) sedangkan akhirat berjalan menjemput (manusia) dan masing-masingnya punya penggemar, karena itu jadilah kamu penggemar akhirat dan jangan menjadi penggemar dunia. Sesungguhnya masa ini (hidup di dunia) adalah masa beramal bukan masa peradilan, sedangkan besok (hari akhirat) adalah masa peradilan bukan masa beramal”.

2. Aku tahu bahwa rezekiku tidak akan dimakan orang lain, maka tenteramlah jiwaku. Aku tahu bahwa amalku tidak akan dilakukan orang lain, maka akupun disibukkannya. Aku tahu bahwa kematian akan datang tiba-tiba, maka segera aku menyiapkannya. Dan aku tahu bahwa diriku tidak akan lepas dari pantauan Allah, maka aku akan merasa malu kepadaNya.

MUHASABAH Buletin Asy-Syifa edisi Mei 2010

Agar Hidup Lebih Mudah

Hidup ini kadang tak selalu sesuai dengan keinginan kita. Masalah, ujian dan cobaan datang silih berganti. Namun, beginilah hidup, seperti berada dalam belantara masalah tanpa usai, suka tidak suka harus dijalani. Kita akan dalam situasi yang membahayakan bila tak mampu menemukan jalan keluar. Bahkan, jika sampai tersesat dan salah jalan, bisa jadi masalahnya justru tambah runyam.

Harus diakui, hidup dengan berjuta-juta masalahnya memang tak mudah dijalani. Tapi, mau bagaimana lagi, kita sudah ‘terlanjur’ hidup. Maka yang akan harusnya dibahas adalah bagaimana membuat hidup menjadi lebih mudah. Toh, terus berkeluh kesah pun juga tak kan menyelesaikan masalah. Tak jarang, dalam menghadapi masalah itulah ‘nilai’ kita sebagai seorang hamba Allah dipertaruhkan.

MUTIARA HADITS Buletin Asy-Syifa edisi Mei 2010

Penjual Minyak Wangi dan Pandai Besi
Allah menciptakan manusia dengan kecenderungan meniru orang lain, dan juga beradaptasi dengan lingkungannya. Jika seseorang ingin diterima di lingkungannya, tentu dia harus bersikap seperti kebanyakan orang yang ada di lingkungan tersebut. Maka sejak jauh hari Rasulullah saw telah berpesan kepada ummatnya agar hati-hati dalam memilih teman. Karena seringnya kita berinteraksi dengan seseorang secara tidak langsung akan membuat kita menyesuaikan diri dengan hal-hal yang disukainya dan terpengaruh dengan kebiasaan-kebiasaannya. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa teman merupakan cermin pribadi seseorang. Dengan kata lain, seseorang tidak akan jauh dari pribadi teman dekatnya.

Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” (HR. Al- Bukhari dan Muslim)

Jika Engkau Tahu Nilai Air Mata (Nasihat bagi Para Lelaki)

Mengapa engkau perlu menangis, wahai kaum laki-laki? Jika saja engkau mengetahui manfaat menangis dan nilai air mata serta faedah-faedah kesehatannya, maka tentu engkau akan lebih memilih untuk menangis lebih banyak. Alasannya :

1. Menangis akan membersihkan mata dari segala bentuk racun atau debu yang menempel padanya.

2. Dengan menangis, perasaan emosi, rasa sedih, marah, dengki, dan perasaan-perasaan lain yang seringkali menimpa manusia akan lebih terjaga.

Berbekal untuk Akhirat

Suatu ketika, Umar bin khattab ra mendatangi Rasulullah SAW yang sedang menjauhi istrinya di sebuah ruangan. Tatkala Umar masuk kepada beliau di ruangan tersebut, tidak didapati kecuali sedikit makanan, qaradha (daun salam yang dipakai untuk menyamak), gandum, dan sebuah kantong air dari kulit. Beliau berbaring diatas tikar yang jalinannya membekas pada tubuh beliau sehingga Umar menangis. Maka beliau berkata, “Ada apa denganmu?” Umar mengatakan, “Wahai Rasulullah, engkau pilihan Allah dari makhluk-Nya, sedangkan pembesar Romawi dan Persia dalam kondisi yang mewah.”

Dosa, pemakluman, hukuman

siang ini

membaca tulisan seorang kawan

dan aku ingat ibnul jauzy

***

“andai seseorang berma’shiat”, kata beliau

“disebab syahwat

aku masih punya harapan tinggi

bahwa Allah akan mengampuni

tapi dia yang sombong dan keras kepala

berdosa dan merasa diri baik-baik saja

aku takut..”

***

Kita, Prasangka, Mereka

kita hidup di tengah-tengah khalayak
yang selalu berbaik sangka..

alangkah berbahayanya
terlalu percaya pada baik sangka mereka
membuat kita tak lagi jujur pada diri
atau menginsyafi, bahwa kita tak seindah prasangka itu

tapi keinsyafan membuat kadang terfikir
bersediakah mereka tetap jadi saudara
saat tahu siapa kita sebenarnya
kadang terrasa, bersediakah dia tetap menjadi sahabat
saat tahu hati kita tak tulus, penuh noda dan karat
dan.. bersediakah dia tetap mendampingi kita di sepanjang
jalan cinta para pejuang
ketika tahu bahwa iman kita berlubang-lubang

Bekerja, Maka Keajaiban

Iman itu terkadang menggelisahkan. Atau setidaknya menghajatkan ketenangan yang mengguyuri hati dengan terkuaknya keajaiban. Mungkin itu yang dirasakan Ibrahim ketika dia meminta kepada Rabbnya untuk ditunjukkan bagaimana yang mati dihidupkan. Maka saat Rabbnya bertanya, “Belum yakinkah engkau akan kuasaKu?”, dia menjawab sepenuh hati, “Aku yakin. Hanya saja agar hati ini menjadi tenteram.”

Tetapi keajaiban itu tak datang serta merta di hadapannya. Meski Allah bisa saja menunjukkan kuasaNya dalam satu kata “Kun!”, kita tahu, bukan itu yang terjadi. Ibrahim harus bersipayah untuk menangkap lalu mencincang empat ekor burung. Lalu disusurnya jajaran bukit-berbukit dengan lembah curam untuk meletakkan masing-masing cincangan. Baru dia bisa memanggilnya. Dan beburung itu mendatanginya segera.

Makna Ikhlas

Ikhlas artinya memurnikan tujuan bertaqarrub kepada Allah dari hal-hal yang mengotorinya. Bisa juga diartikan bahwa ikhlas itu adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam bentuk ketaatan. Sebenarnya, mengapa kita perlu berbuat ikhlas dalam kehidupan kita? Sebab, ikhlas merupakan syarat diterimanya amal shaleh yag dilaksanakan sesuai dengan sunnah Rasululah SAW. Allah SWT berfirman di Al-Bayyinah ayat 5 yang artinya insya Allah sebagai berikut:

“Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan dien (agama) kepadaNya, lagi bersikap lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

AL-QUR’AN

Mendengar kata Al-Qur’an, mungkin yang terbenak dalam kita ialah tulisan Arab seperti rumput yang susah dibaca sehingga membuat kita malas membacanya. Maka jadilah kita orang-orang yang mengaku muslim namun jarang menyentuh Al-Qur’an seumur hidup kita.