Tampilkan postingan dengan label tazkiyatun nafs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tazkiyatun nafs. Tampilkan semua postingan

BAHASAN UTAMA Buletin Asy-Syifa edisi Juni 2010

Dunia dan Akhirat, Mana yang Lebih Menarik?
Orang bilang hidup di dunia ini ‘mung mampir ngombe’, sekedar mampir untuk minum. Orang lain bilang hidup ini cuma sekali, maka kita gunakan saja untuk bersenang-senang. Wah….wah…terus mana yang benar ya? Untuk lebih jelasnya, mari kita simak artikel berikut.

Dunia dan akhirat. Dunia, tempat kita berada saat ini, tempat kita berusaha untuk meraih ‘kesuksesan’. Sedangkan akhirat? Bagi orang yang beriman, akhirat adalah masa depan yang pasti datang, dimana disitu terdapat 2 tempat, surga atau neraka. Sudah seharusnya seorang muslim menggunakan kehidupan dunia ini untuk mencari bekal dalam mengarungi kehidupan akhiratnya. Akan tetapi, bagi yang tidak mempercayainya atau meremehkannya, tentu dia akan lebih mengutamakan kesenangan dunia dari pada mempersiapkan bekal untuk akhiratnya.

NISA Buletin Asy-Syifa edisi Juni 2010

Saat Muslimah Harus Berkarya
Berbicara mengenai wanita memang suatu hal yang sangat menarik. Ia adalah makhluk yang istimewa. Banyak hal yang dimiliki wanita, tapi tidak akan didapati pada diri laki-laki. Memang begitulah, Allah menciptakan manusia dalam 2 jenis: laki-laki dan perempuan, dengan karakteristik yang berbeda, dengan kekhususan masing-masing. Namun, mereka mempunyai peran yang sama-sama besar untuk membangun sebuah peradaban.

Ketika sekolah atau masih menempuh bangku kuliah, seorang wanita merasa ’baik-baik’ saja, merasa bisa melakukan apa pun dalam berbagai hal. Mereka saling berkompetisi untuk melakukan yang terbaik, hingga banyak penghargaan dianugerahkan kepadanya. Apalagi di zaman modern seperti sekarang ini, di mana wanita dan laki-laki memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang sama besarnya, sehingga dalam bidang-bidang keilmuan itu para wanita telah membuktikan bahwa kemampuan mereka tidak bisa dipandang sebelah mata.

AKIDAH Buletin Asy-Syifa edisi Juni 2010

Nikmat Surga dan Siksa Neraka yang Kekal Selamanya

Segala Puji hanya bagi Allah Ta’ala, Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad shollallahu’alaihi wasallam. Amma ba’du: Ketahuilah wahai saudaraku-semoga rahmat Allah Ta’ala senantiasa diberikan kepada kalian-bahwa salah satu hal yang perlu kita yakini dan kita imani adalah adanya Surga dan Neraka serta nikmat yang terdapat di dalam syurga maupun siksa yang terdapat di dalam neraka.

Iman Kepada Hari akhir
Iman kepada hari akhir adalah kepercayaan yang pasti tentang kedatangannya, tidak dapat tidak, serta mengamalkan konsekuensinya berupa beriman dengan tanda-tanda kiamat yang terjadi sebelumya, juga dengan kematian serta apa yang terjadi sesudahnya berupa fitnah kubur, siksa dan kenikmatan yang ada di dalamnya, juga beriman kepada tiupan sangkakala, keluarnya segenap makhluk dari kubur mereka, kengerian dan kedahsyatan hari kiamat, mahsyar dan dibukanya buku catatan amal, mizan (timbangan amal), shirath (titian), haudh (telaga), syafa’at dan lainnya, juga dengan surga dan kenikmatannya dimana kenikmatan yang paling tinggi adalah melihat kepada wajah Allah azza wajalla, demikian pula dengan neraka dan siksanya dimana yang paling pedih adalah dihalanginya mereka dari melihat Tuhan mereka.

BAHASAN UTAMA Buletin Asy-Syifa edisi Mei 2010

Fenomena Lemahnya Iman
A. Definisi Iman
Iman secara bahasa maknanya adalah membenarkan. Sedangkan secara istilah maknanya adalah meyakini dengan hati mengucapkan dengan lisan dan membuktikannya dengan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan sebab kemaksiatan. Dan iman itu memiliki 70 atau enam puluh sekian cabang.

Dalilnya:
1. Hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwasannya Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Iman itu terdiri dari 70 atau enam puluh sekian cabang, yang paling utama adalah ucapan Laa Ilaaha Illallah dan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan dan malu termasuk cabang dari keimanan." (Muttafaqun’alaih)

2. Hadits Jibril tentang rukun Iman

Karakteristik Kesungguhan Tinggi (Himmah 'Aliyah)

1. Orang yang memiliki kesungguhan tinggi itu tidak akan hilang/melemah tekadnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah, ”Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya” (QS Ali Imran: 159)

2. Orang yang memiliki kesungguhan tinggi itu tidak akan rela jika tidak mendapatkan apa yang ditujunya. Maka jika kita berniat untuk mendapatkan ridho Allah dengan dimasukkan ke Jannah-Nya, maka bersungguh-sungguhlah walau bagaimanapun keadaannya.

Tazkiyyatun Nafs: Qolbun

Hubungan hati dengan organ-organ tubuh lainnya, laksana raja yang bertahta di atas singgasana yang dikelilingi para punggawanya. Seluruh anggota punggawa bergerak atas perintahnya. Dengan kata lain, bahwa hati itu adalah pengendali dan sekaligus sebagai pemberi komando terdepan yang setiap anggota tubuh berada di bawah kekuasaannya. Di hati inilah anggota badan lainnya mengambil keteladanannya, baik dalam ketaatan atau penyimpangan. Organ-organ tubuh lainnya selalu mengikuti dan patuh dalam setiap keputusan.

Nabi saw bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka baiklah tubuh manusia itu, akan tetapi bila daging itu rusak maka rusak pula tubuh manusia. Ketahuilah bahwa sesungguhnya segumpal daging itu adalah hati.”[HR. Bukhari-Muslim].

Tazkiyatun Nafs

Tazkiyatun Nafs
Tazkiyatun Nafs merupakan hal yang penting yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, sudah sepatutnya kita teladani dan kita amalkan. Kajian ini akan menjelaskan secara singkat apa yang dimaksud dengan Tazkiyatun Nafs itu. Kajian akan meliputi definisi dari Tazkiyatun Nafs dan urgensinya.

DEFINISI
Secara bahasa, Tazkiyyatun Nafsi berarti membersihkan / mensucikan, atau menumbuhkan / mengembangkan. Sedangkan secara istilah Tazkiyatun Nafs berarti mensucikan hati dari sifat-sifat tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji. Sarana Tazkiyatun Nafs adalah melalui ibadah dan berbagai amal baik. Sedangkan hasilnya adalah akhlak yang baik kepada Allah dan pada manusia, serta terpeliharanya anggota badan, senantiasa dalam batas-batas syari’at Allah SWT.