Tampilkan postingan dengan label iptek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iptek. Tampilkan semua postingan

INFOMEDIK Buletin Asy-Syifa edisi Juni 2010

Keajaiban Tidur Malam Hari
Tidur yang berkualitas telah dicontohkan sesuai adab yang dilakukan Rasulullah SAW, di antaranya adalah anjuran untuk tidur di awal malam dan bangun di awal sepertiga malam terakhir, seperti diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam hadits shahih, “Bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidur pada awal malam dan bangun pada penghujung malam, lalu beliau melakukan shalat.”(Muttafaq ‘alaih). Selain itu, Rasulullah SAW juga menganjurkan untuk mematikan lampu ketika hendak tidur "Matikanlah lampu-lampu diwaktu malam jika kalian hendak tidur, dan tutuplah pintu-pintu, bejana serta makanan dan minuman kalian.” (HR. Bukhari 6296 dan Muslim 2012 dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu).

IPTEK Buletin Asy Syifa edisi Mei 2010

Ngantuk bukan berarti Malas
Para ilmuwan dari Universitas Utah, Salt Lake City, Amerika Serikat, mengatakan yang menentukan apakah seseorang itu mudah mengantuk atau tidak ditentukan oleh faktor genetika. Tepatnya, oleh sebuah gen khusus bernama H-perz, diduga punya peran penting dalam pengendalian pola tidur.

Kebutuhan tidur setiap orang ditentukan oleh banyak hal, seperti faktor bawaan, banyak tidaknya aktivitas sehari-hari, minat, karakter, dll. Sedangkan penyebab kantuk itu sendiri terdapat dalam sel-sel otak atau neuron yang disebut nukleus preoptik ventrolateral (NPV).

Jadi, pada jam-jam tertentu, ketika jadwal tidur kita tiba, sel penyebab kantuk ini akan bekerja, yaitu dengan menekan efek zat-zat kimia yang bernama noradrenalin, asetilkolin, dan serotonin. Ketiga jenis zat kimia ini berperan agar kita tetap terjaga. Jadi, di saat kita merasa segar dan tidak mengantuk, itu artinya ketiga jenis zat kimia tadi sedang bekerja. Sedangkan sebaiknya, ketika kita ngantuk dan ingin tidur, neuron NPV-lah yang tengah beraksi. Dan ternyata menguap itu menular loh!

INFOMEDIK Buletin Asy-Syifa edisi Mei 2010

Puasa Ditinjau dari Aspek Psikoneuroimunologi

Puasa dapat memberikan banyak manfaat bagi kesehatan. Puasa tidak hanya menahan diri dari lapar dan dahaga tetapi juga menjaga anggota badan dari maksiat serta membuat kita berlatih bersabar. Seperti yang disabdakan Rasulullah, “Puasa itu bukanlah sekedar menahan diri dari makan dan minum, akan tetapi sesungguhnya puasa itu ialah mencegah diri dari segala perbuatan yang sia-sia serta menjauhi perbuatan-perbuatan yang kotor dan keji” (HR. Hakim). Oleh karena itu, puasa dapat mengendalikan stres. Perubahan pola makan ketika awal berpuasa juga menyebabkan stres, namun perubahan pola makan ini hanya memberikan nilai stres yang relatif kecil bila dibandingkan dengan nilai stres yang didapat dari pekerjaan atau trauma karena sakit.